105 Tahun Al-Irsyad Al-Islamiyyah

Oleh: Mansyur Alkatiri (peneliti di Pusdok Al-Irsyad Bogor)

Perhimpunan Al-Islah wal-Irsyad Al-Islamiyyah yang lebih dikenal dengan nama singkatnya Al-Irsyad Al-Islamiyyah, hari ini (6 September 2019) memasuki usianya yang ke-105.

Di awal-awal kelahirannya, Al-Irsyad terutama melalui Syekh Ahmad Surkati dikenal karena dua peran penting yang dimainkannya. Pertama, sebagai agen pembaharuan Islam di Indonesia; dan kedua, sebagai salah satu pencetak tokoh-tokoh dan pejuang kemerdekaan, terutama dari kalangan nasionalis islami.

Peran besar Al-Irsyad dan Syekh Ahmad Surkati dalam mengembangkan reformasi atau pembaharuan Islam di Indonesia sudah banyak diulas para ahli. Madrasah Al-Irsyad di Batavia menjadi tempat kaderisasi dan lahirnya para ulama modernis sekaligus pejuang bangsa. Mereka lalu aktif di ormas Muhammadiyah dan Al-Irsyad, serta Partai Sarikat Islam (PSI lalu PSII).

Sebagai pengusung reformisme Islam yang dikembangkan trio Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, Al-Irsyad pun mengaplikasikan pembaharuan Al-Afghani dan Abduh untuk sekolah-sekolahnya, yaitu dengan memasukkan mata pelajaran umum bagi seluruh siswanya, seperti aljabar, biologi, bahasa Inggris dan lainnya. Sebuah terobosan yang banyak direspon nyinyir saat itu oleh kalangan tradisional yang menyebut ilmu-ilmu itu sebagai ilmu Barat (non-Muslim). Surkati tidak mau membedakan dan mengelompokkan ilmu pengetahuan ke dalam dikotomi ilmu agama dan ilmu dunia, karena menurutnya semua ilmu adalah dari Allah.

Sejarawan Belanda GF Pijper menulis dalam Beberapa studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950: “Yang benar-benar merupakan gerakan pembaharuan dan ada persamaannya dengan gerakan reformisme di Mesir adalah gerakan pembaharuan Al-Irsyad.”

Hal senada juga diungkapkan oleh cendekiawan Muslim Dr. Nurcholis Madjid, “Al-Irsyad lebih secara langsung sebagai kelanjutan gelombang modernisasi yang disuarakan Muhammad Abduh dari Mesir. Berbeda dengan Persis dan Muhammadiyah yang menerima gerakan modernisasi secara tidak langsung, Al-Irsyad lebih lebih murni dalam hubungannya dengan gerakan pembaharuan Muhammad Abduh.” (Majalah Khazanah, Yogyakarta, 1991).

Guru Spiritual

Sejak awal berdirinya, Al-Irsyad dibawah arahan Syekh Ahmad Surkati sudah bergulat dengan gerakan nasional Islam dan kebangsaan di Indonesia, meski tetap berusaha menjaga jarak dari politik praktis yang bisa memancing amarah pemerintah kolonial Belanda.

Ahmad Surkati datang ke Indonesia dari Mekkah untuk tujuan yang besar, membawa dan ingin memperjuangkan pesan atau misi yang besar. Dalam waktu yang relatif singkat ia berhasil mengadakan hubungan baik dengan para tokoh bangsa dan umat, seperti KH Mas Mansur, HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim, dan bahkan Bung Karno.

Peran besar awal yang ditunjukkan Al-Irsyad dan Surkati dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui jalur Islam adalah dalam Kongres Al-Islam I di Cirebon pada 1922 bersama Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Begitu pula dengan Kongres-Kongres Al-Islam berikutnya.

Meski lahir dan besar di tengah gurun Afrika dan Arabia, Ahmad Surkati sudah menyatu jiwa dengan Indonesia, tanah air barunya. “Aku (Syekh Surkati), merasa tiap-tiap dzarrah (atom) dari badan saya telah berganti dengan unsur-unsur Indonesia. Aku akan tetap hidup di Indonesia sampai akhir hayatku,” katanya seperti diungkapkan HM Rasyidi, salah satu murid utamanya yang kemudian menjadi menteri agama pertama RI.

Rasa keindonesiaannya itu telah menuntun Syekh Ahmad Surkati terlibat aktif dalam membimbing perjuangan golongan Islam Indonesia menghadapi penjajahan Belanda. Syekh Ahmad Surkati juga dikenal sebagai “guru spiritual” Jong Islamieten Bond (JIB), sebuah organisasi intelektual muda Muslim berpendidikan Barat yang berdiri 1 Januari 1925. Para aktifis JIB seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo dan lainnya sering belajar kepada Surkati. Syekh Surkati juga sangat dekat dengan KH Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam.

Ahmad Surkati sangat membenci penjajahan dan tidak mau umat Islam Indonesia diperbudak oleh orang-orang Belanda. Ia dengan tidak kenal lelah menanamkan kesadaran pada segenap umat akan bahayanya penjajahan. Dalam sebuah ceramah terbuka di Surabaya pada 29 Desember 1928, Syekh Ahmad Surkati menekankan pentingnya ilmu dipegang oleh orang-orang yang berani. Ia menyatakan, “Ilmu bagi manusia sama halnya seperti sebilah pedang, tak bisa memberi manfaat kecuali bila pedang itu ada di tangan orang yang berani mempergunakannya.”

Kepada para pemuda JIB, Surkati juga keras tegas mengajarkan keyakinan Qur’ani bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dan merdeka. Belanda bukan hanya menjajah fisik namun juga menindas harkat dan jiwa bangsa Indonesia. Surkati juga memberi kesempatan kepada pemuda-pemuda pergerakan nasional itu untuk menggunakan fasilitas pendidikan Al-Irsyad. Mereka secara berkala mengikuti ceramah dan kursus agama yang diadakan di gedung Al-Irsyad.

Syekh Ahmad Surkati juga senantiasa menekankan pada para murid sekolah Al-Irsyad untuk memiliki jiwa yang merdeka, bukan jiwa yang rendah. Karena hanya dengan jiwa yang besar dan merdeka maka bangsa ini bisa tumbuh menjadi bangsa yang kuat dan melawan penjajahan asing. Salah satu murid kesayangan Syekh Surkati, Abdul Halim asal Lampung menuturkan apa yang disampaikan beliau di kelasnya di tahun 1924:

“Jika kalian sudah tamat dari sekolah Al-Irsyad ini, berkeinginan untuk menjadi pegawai pada salah satu kantor Pemerintah Hindia Belanda, maka bukanlah di sekolah ini kalian belajar. Jika benar keinginan kalian untuk menjadi pegawai Pemerintah, maka saya nasihatkan pada kalian supaya kalian benahi koper-koper kalian dan kembalilah ke tempat asal kalian masing-masing.”

Al-Irsyad tidak membuka Inlandse Scholen (Sekolah Rakyat), tidak membuka HIS, MULO, AMS sampai kepada Hogere Scholen (Sekolah-sekolah Tinggi) yang sudah ada seperti sekarang ini. Sekolah-sekolah seperti itu telah dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk dijadikan batu loncatan bagi kalian untuk menjadi pegawai Pemerintah yang menjajah bangsa dan tanah air kalian. Mengapa kalian tidak sadar?

Sekolah-sekolah yang dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda itulah yang telah menanamkan jiwa kecil kepada anak-anak pribumi, sehingga apabila kalian berhadapan muka dengan mereka itu, kalian sudah lebih dahulu mengaku kalah sebelum bertempur. Jiwa kalian sudah mati sebelum mati yang hakiki.”

Penentangan Ahmad Surkati terhadap penjajahan Belanda sangat jelas. Dukungan beliau terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia juga sangat jelas. Menariknya lagi, meski Ahmad Surkati merupakan bagian dari kelompok Islam dan bahkan simpul gerakan Pan-Islam di Indonesia, beliau tidak membeda-bedakan kelompok dan ideologi para pejuang. Ketika banyak pejuang kemerdekaan dibuang Belanda ke Tanah Merah, Digul, Ahmad Surkati mengumpulkan bantuan dari banyak warga Al-Irsyad untuk menyantuni keluarga mereka. Data-data keluarga mereka itu diperoleh dari sahabatnya, Marco Kartodikromo, seorang wartawan dan pejuang besar yang ikut ditahan di Digul pada Juni 1927. Meski dalam keadaan ditahan, Marco tetap bisa mengirimkan tulisan ke beberapa surat kabar dan mengirim surat ke sahabat-sahabatnya.

Tiga kader asuhan Syekh Ahmad Surkati juga memegang peranan penting dalam proses pengakuan kedaulatan RI oleh negara-negara Arab di Timur Tengah, yaitu HM Rasyidi (1915-2001), Abdulrahman Baswedan (1908-1986) dan M. Sholeh Syu’aidy (1913-1976). HM Rasyidi dan AR Baswedan adalah anggota misi khusus yang dikirim pada Maret 1947, dan berhasil meraih pengakuan kemerdekaan RI oleh Mesir, Libanon dan Arab Saudi di tahun itu. Ini menjadikan ketiga negara Arab itu sebagai negara-negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. HM Rasyidi adalah salah satu murid menonjol Syekh Ahmad Surkati asal Yogyakarta di Madrasah Al-Irsyad Lawang (Jawa Timur) yang lalu melanjutkan kuliah di Universitas Kairo, Mesir, sedang Abdurrahman Baswedan adalah alumni Madrasah Al-Irsyad Batavia (Jakarta).

HM Rasyidi adalah menteri agama kedua RI, sedang HM Sholeh Syu’aidy adalah orang pertama yang mengusulkan dibentuknya Kementerian Agama. Ia mengusulkan itu dalam sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) karena ia adalah anggota KNIP mewakili Banyumas.

Pada awal Januari 1946, ibukota RI terpaksa pindah ke Yogyakarta karena situasi Jakarta sudah tidak aman mengingat pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda banyak menangkapi para pejuang RI. Seorang tokoh dan ulama Al-Irsyad, Moh. Saleh Syu’aidy, yang saat itu menjadi kepala Madrasah Al-Irsyad Purwokerto, ikut pindah ke Yogyakarta guna membantu pemerintahan. Ia lalu diangkat sebagai Kepala Penyiaran Bahasa Arab di Siaran Luar Negeri Radio Republik Indonesia (RRI) seksi Bahasa Arab. Bersama Ustadz Hadi Addaba, gurunya saat sekolah di Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah Surabaya, setiap hari mereka menyebarkan berita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia RI dan kezaliman penjajah ke seluruh Timur Tengah.

Melihat kepiawaiannya itu, M. Soleh Syua’idi lalu ditunjuk  sebagai salah satu anggota Misi Haji Indonesia pada 1948 oleh Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri Moh. Hatta, atas usul KH Agus Salim, menteri luar negeri saat itu. Meski namanya Misi Haji, tugas utama Misi ini adalah berkampanye dan minta pengakuan kemerdekaan Indonesia serta mengutuk kembalinya kolonialis Belanda. Dalam Misi yang diketuai oleh RH M. Adnan ini, Sholeh Syu’aidi menjadi Sekretaris II.

Salah satu murid Syekh Ahmad Surkati dan tokoh Al-Irsyad yang menonjol adalah Letkol (Purn.) Iskandar Idris (1900-1982), seorang asli Sunda. Lahir di Desa Kedunghalang, Semplak, Bogor, 17 Februari 1900, Iskandar memperoleh pendidikan di Jamiat Khair lalu pindah ke Madrasah Al-Irsyad. Tahun 1921 ditugaskan mengajar di Al-Irsyad Pekalongan. Di sana ia juga menjadi ketua Muhammadiyah setempat. Iskandar Idris menulis tafsir Al-Qur’an yang dikenal dengan nama Tafsir Hibarna. Di zaman Jepang, Iskandar masuk PETA dan menjadi Daidancho (komandan batalyon, pangkat setingkat Mayor) PETA Pekalongan. Setelah kemerdekaan RI, ia diangkat menjadi Komandan Resimen ke-17 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Pekalongan, sampai ia ditangkap oleh pemberontak Tiga Daerah di Tegal pada 1945. Ia salah satu tokoh yang berjasa dalam menghentikan pemerintah revolusioner baru (komunis), baik di Pekalongan maupun di Tiga Daerah (Tegal, Brebes, dan Pemalang). Setelah operasi kontra TKR terhadap Tiga Daerah berakhir, Iskandar Idris ternyata memilih tidak kembali ke jabatan semula komandan TKR Pekalongan, tapi ia lebih memilih memimpin pasukan Hizbullah di Wonosobo dalam menghadapi Belanda. Sampai akhir hayatnya, Iskandar tinggal di Jakarta sebagai Letkol Purnawirawan Angkatan Darat. Jabatan terakhirnya di organisasi Al-Irsyad adalah sebagai wakil ketua Pengurus Besar (PP) Al-Irsyad Al-Islamiyyah 1951-1966.

Melihat perannya dalam perjuangan bangsa itu, tak salah kalau ketua MPR Zulkifli Hasan saat menutup Muktamar Al-Irsyad 2017 di Bogor menyatakan, “Al-Irsyad salah satu bapak kandung kemerdekaan Indonesia, karena sejak berdirinya Al-Irsyad bersama ormas-ormas lain seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah dan lainnya sudah mendidik dan membangkitkan semangat bangsa Indonesia, jauh sebelum Indonesia merdeka.” *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *