Bentrok Tentara Libya dengan Gerakan Islam

PRESIDEN LIBYA MUAMMAR GHADAFI. Memusuhi gerakan Islam

Sebuah laporan yang bulan lalu dikeluarkan organisasi pembela kebebasan di dunia Islam, yang bermarkas di London, Liberty, menyebut adanya gelombang penangkapan besar-besaran di kalangan para aktivis gerakan Islam di Libya. Penangkapan itu berlangsung setelah terjadinya rangkaian bentrok senjata antara pihak keamanan dan sekelompok pemuda di beberapa tempat.

Bentrokan berawal di sebuah perkampungan miskin di pinggiran kota Benghazi. Lalu berkembang menjadi semacam perang terbuka di distrik Faakah, pinggiran Benghazi. Sejumlah besar tentara pemerintah mengepung para pemuda di daerah persawahan. Hujan peluru dan mortir antara kedua belah pihak sempat berlangsung selama lebih lima jam.

Bentrokan serupa juga terjadi di kota Tobruk, Beida, dan Derna, yang seluruhnya terletak di bagian utara Libya.

Kendati tidak disebutkan jumlah korban jiwa dan materi, laporan itu menyatakan bahwa kebangkitan Islam di negeri Ghadafi itu tak bisa dibendung lagi. Khususnya setelah kembalinya para mujahidin asal Libya dari kancah perang Afghanistan.* (MA)

Majalah UMMAT Tahun I No. 4, 21 Agustus 1995 / 24 Rabiul Awal 1416 H

BACA JUGA:
Gambia-Libya Bahu Membahu
Sandiwara Damai PBB di Bosnia
Strategi Kotor Yahudi di Jerusalem

Polisi Palestina Tahan 20 Anggota HAMAS

BOM MOBIL DI TEL AVIV

Polisi Palestina menahan 20 anggota HAMAS setelah kelompok itu menyatakan bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di dekat Tel Aviv, Senin (24/7). Polisi Israel, Selasa (25/7), mengeluarkan foto pengebom bunuh diri itu, namun jati dirinya belum diketahui. Menurut radio Israel, penyerang adalah anggota keluarga Al-Najar di Khan Yunis, sebelah selatan Jalur Gaza. Keluarga Al-Najar membantahnya.

Perundingan PLO-Israel mengenai perluasan pemerintahan Palestina di Tepi Barat terhenti akibat peristiwa yang menewaskan enam orang Israel itu.

Sehari setelah penangkapan aktivis HAMAS itu, juru runding PLO, Ahmed Korei, Rabu (26/7), mengumumkan, perundingan siap dilanjutkan kembali Ahad berikutnya. Menurut polisi, penahanan itu tak berhubungan dengan serangan bom bunuh diri tersebut.

Secara teratur, polisi Palestina memang menahan para aktivis HAMAS dan kelompok lainnya yang menentang perdamaian dengan Israel, meski membebaskannya kembali setelah beberapa jam atau beberapa hari.* (MA)

Majalah UMMAT Tahun I No. 4, 21 Agustus 1995 / 24 Rabiul Awal 1416 H

BACA JUGA:
Sandiwara Damai PBB di Bosnia
Strategi Kotor Yahudi di Jerusalem
Perang Saudara di Somalia

Gambia-Libya Bahu Membahu

Bila dua negara sama-sama merasa dikucilkan oleh kekuatan besar, yang muncul adalah rasa senasib dan sepenanggungan. Itulah yang terjadi antara negara mungil Afrika Barat, Gambia, dan Libya. Gambia menyatakan berpihak kepada Libya soal sanksi-sanksi PBB dalam kasus Lockerbie. Sebaliknya, Libya siap memberikan bantuan bahan makanan dan pinjaman bebas bunga buat Gambia.

Kedua negara Afrika ini membuat pernyataan bersama, Rabu (26/7), mengenai upaya memperkuat kerja sama. Pernyataan itu di antaranya menyebut “solidaritas Gambia terhadap Libya dalam menghadapi ketidakadilan sanksi-sanksi yang dijatuhkan DK PBB.”

Libya menyumbang tepung dan beras senilai US$ 3 juta dan memberi pinjaman bebas bunga senilai US$ 1 juta untuk Gambia. Kedua negara juga akan membentuk suatu komite ekonomi dan komite teknik dan budaya. Serangkaian kerja sama di bidang ekonomi telah disiapkan, termasuk pembentukan bank komersial bersama.

Libya dijatuhi sanksi ekonomi oleh PBB karena tak bersedia menyerahkan warganya yang dituduh meledakkan pesawat Lockerbie pada 1988. Sedangkan Gambia menghadapi pemotongan bantuan dari negara-negara Barat sejak jatuhnya pemerintahan Presiden Sir Dawda pada 22 Juli 1994.* (MA)

Sumber: Majalah UMMAT Tahun I No. 4, 21 Agustus 1995 / 24 Rabiul Awal 1416 H

BACA JUGA:
Sandiwara Damai PBB di Bosnia
Rekonsiliasi Tersandung di Aljazair
Tentara Tutsi Bantai Muslim di Burundi

Sandiwara Damai PBB di Bosnia

Oleh: Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT Tahun I No. 04, 21 Agustus 1995 / 24 Rabiul Awal 1416 H

Semakin pasti langkah PBB dan Barat menyerahkan Bosnia pada Serbia

KOMANDAN PASUKAN PBB ASAL BELANDA, THOM KARREMANS, DAN PANGLIMA AB SERBIA BOSNIA, RATKO MLADIC. Sepakat Musnahkan Muslim

Ejup Ganic, wakil presiden Bosnia Herzegovina, pernah berucap sinis, enam “wilayah aman” yang dinyatakan PBB di Bosnia, adalah tempat aman bagi Serbia untuk membunuh. Ganic benar. Srebrenica dan Zepa, dua “kota aman” di Bosnia Timur, telah diserahkan pasukan PBB ke tangan agresor Serbia.

Ini kontan membuat Tadeusz Mazowiecki, ketua Tim Penyelidik Hak-hak Asasi Manusia PBB untuk Bekas Yugoslavia, mengundurkan diri. “Para pemimpin dunia bersikap munafik,” tuduhnya.
BACA SELENGKAPNYA “Sandiwara Damai PBB di Bosnia”

Pemerintah Otonomi Palestina Hantam Puluhan Mesjid di Gaza

MASJID AL-KHALDI DI GAZA, PALESTINA.

Bukan hanya rezim zionis Israel yang suka menghantam mesjid di Palestina. Pemerintah Otonomi Palestina pimpinan Yasser Arafat ternyata juga melakukannya. Ini terungkap dari laporan Dewan Islam untuk Pembelaan Mesjid palestina, sepertti dikutip majalah berbahasa Arab yang terbit di London, Filistin Muslimah, bulan ini.

Laporan itu menyebutkan, dalam waktu sebulan, antara tanggal 19 April sampai 19 Mei tahun ini, terjadi 138 serangan terhadap 57 mesjid di Jalur Gaza oleh aparat keamanan Otonomi Palestina.

Dalam berbagai bentrokan di dalam “rumah Allah” tersebut, 12 warga Palestina syahid dan 200 lainnya luka-luka. Pemerintah Arafat beralasan, banyak mesjid di Gaza telah menjadi tempat mobilisasi massa untuk tujuan politik. Mesjid-mesjid di Gaza umumnya dikuasai oleh aktivis kelompok Islam Hamas.

Untuk membabat aktivitas kelompok Islam di dalam mesjid, pemerintahan Arafat tak segan-segan menyewa anak-anak untuk menjadi tenaga mata-mata. Seorang anak berusia 15 tahun pernah dibayar US$ 100 per bulan untuk memata-matai para pemuda Palestina yang rajin hadir di mesjid.* – MA     

Liga Arab Ingin Bangun Masjid di Athena

MASJID DI PLAKA, ATHENA. Diubah menjadi museum keramik

Yunani pernah ratusan tahun dikuasai Kekhalifahan Turki Usmani. Namun kini di Athena, ibu kota negeri itu, tak ditemukan sebuah masjid pun. Seluruh masjid yang pernah ada di Athena sudah diubah fungsinya menjadi museum, gereja, tempat hiburan dan lain-lain begitu Yunani lepas dari Turki Usmani. Karena itu, kota ini menjadi satu-satunya ibu kota negara di Eropa yang tak memiliki rumah ibadah Muslim.

Pemerintah Yunani sendiri di masa lalu pernah mengizinkan pembangunan mesjid. Namun mereka takut pada reaksi Gereja Ortodoks Yunani yang memiliki pengaruh besar di negeri tersebut. 

Belum lama ini, Liga Arab, dalam sebuah jamuan makan siang bagi Menteri Luar Negeri Yunani, Karolos Papoulias, memohon pada Pemerintah Sosialis Yunani untuk mengizinkan pembangunan sebuah masjid di Athena.

“Kami bangga dengan gereja yang ada di negara kami, dan kami berharap Anda dapat membagi sebidang tanah bagi pembangunan sebuah mesjid di Athena, agar masyarakat Muslim dan Arab di sini dapat melaksanakan kewajiban agamanya,” kata duta besar Kuwait di Yunani, Ali al-Zaid., mewakili duta-duta besar Arab. Gereja Ortodoks Yunani memang banyak dijumpai di negara-negara Arab Muslim.

Tiga tahun lalu, sebuah mesjid tua di daerah Plaka, yang berdekatan dengan kuil Acropolis kuno yang masyhur itu, telah diubah menjadi museum kesenian. Sebuah masjid tua lain di daerah yang sama pun terkunci rapat.*  – MA (Sumber: Kayhan International)

Demo di Turkmenistan, Tuntut Pemilihan Presiden Baru

Presiden Saparmurat Niyazov

Pawai demonstrasi meletus di Ashkhabad, ibu kota Turkmenistan, 12 Juli lalu. Mereka menuntut agar diadakan pemilihan presiden dan parlemen baru. Aksi di negara Asia Tengah ini tercetus akibat kesulitan ekonomi berat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Presiden Saparmurat Niyazov yang memerintah Turkmenistan dengan gaya Turkmenbashi atau “Pemimpin Bangsa Turkmen” menjanjikan akan mengubah negaranya -yang punya cadangan gas ketiga terbesar di dunia- menjadi “Kuwait baru”. Namun, yang terjadi saat ini, justru harga-harga barang melambung tinggi. Bahkan penduduk kian sulit memperoleh air, roti, dan listrik, termasuk di pusat kota.

Tampaknya takkan ada pemilihan presiden sampai tahun 2002. Sebab, pada Januari 1994, Niyazov memenangkan 99,99% suara dalam referendum yang memberinya tambahan masa jabatan lima tahun lagi.

“Kami paham, kesulitan keuangan telah menyebabkan naik tajamnya harga-harga barang. Tapi Anda tak dapat menambal lubang dengan biaya rakyat yang sudah tak tahan antri bahan makanan dan hidup melarat,” ujar seorang demonstran.

“Sekaranglah waktunya untuk menghentikan proyek-proyek mahal dan rumah-rumah mewah musim panas bagi presiden dan para pembantunya,” tambahnya.* – MA (Reuters)

BACA JUGA:
Polisi Filipina Siksa Tahanan Muslim
Liga Arab Ingin Bangun Masjid di Athena
Pemerintah Otonomi Palestina Hantam Puluhan Masjid di Gaza

Polisi Filipina Siksa Tahanan Muslim

Aparat kepolisian Manila telah memperlakukan beberapa tahanan Muslim Arab dengan tidak manusiawi. Hal ini terungkap dalam surat yang dikirimkan tiga tahanan mahasiswa kedokteran asal Yordania pada Kementerian Luar Negeri Yordania. Dalam suratnya, ketiga tahanan tersebut, Nidal Saleh Aodah, Ahmad, dan Muhammad Ghibran, mengadukan perlakuan polisi Manila yang tergolong sudah di luar batas perikemanusiaan.

Mereka bertiga disiksa dalam tahanan dengan berbagai cara. Bahkan beberapa butir bom, yang sewaktu-waktu bisa meledak, sempat dipadang di kantong mereka dengan tujuan menakut-nakuti. Beberapa perwira polisi pernah pula meminta uang tebusan sampai 25 juta peso atau sekitar US$ 1 juta, dan dengan itu baru mereka bisa bebas.

Ketiga Muslim ini dipenjara sejak 21 April lalu dengan tuduhan menyimpan sejumlah bahan peledak. Namun mereka menyangkal keras tuduhan tersebut. Teman-teman sekampus mereka yang berusaha membantu dengan mencarikan pengacara, telah ditekan pula oleh pihak kepolisian Filipina agar tak ikut campur.* – MA (Sumber: al-Mujtama)

Majalah UMMAT Tahun I No. 03, 7 Agustus 1995 / 10 Rabiul Awal 1416 H

BACA JUGA:
Mindanao Terus Menyimpan Bara
Rekonsiliasi Tersandung di Aljazair
Strategi Kotor Yahudi di Jerusalem

Mindanao Terus Menyimpan Bara

Antara Damai dan Perang

Oleh Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT Thn. I No. 03, 7 Agustus 1995 / 10 Rabiul Awal 1416 H

Mindanao tetap menyimpan bara. Ramos sulit menerima semua tuntutan Misuari. Militansi bangsa Moro pun kian menguat

Perundingan mengenai status Mindanao terus bergulir. Tapi bukan berarti ketegangan telah berakhir. Pemerintah Manila masih tak mau memenuhi syarat Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), yaitu otonomi bagi 12 propinsi di Mindanao dan pulau Palawan, wilayah selatan Filipina yang mayoritas beragama Islam.

Dalam Perjanjian Tripoli 1976, Manila sebetulnya telah menyetujui status otonomi tersebut. Namun penguasa Manila, baik Marcos, Aquino, maupun Fidel Ramos, selalu ingkar.

Bulan depan perundingan akan digelar kembali di Jakarta. Pembicaraan akan berkisar pada masalah pembagian pendapatan antara pemerintah pusat Manila dengan pemerintah propinsi otonomi, penyerapan kader-kader MNLF ke dalam militer Filipina, pelaksanaan hukum syariah, dan plebisit dalam pmerintahan otonomi. Ketua MNLF, Nur Misuari, tengah mendapat tekanan untuk memberi konsesi pada Manila.

Sembari berunding, gerilyawan Moro tetap siaga menghadapi segala kemungkinan, termasuk perang saudara kembali. Pasukan pemerintah Manila bahkan sudah bergerak menghantam beberapa basis gerilyawan. Peperangan baru memang sedang menghantui kawasan ini.

Gerilyawan Moro sendiri tidak berada dalam satu kubu. Selain MNLF, ada kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang terus membangun kekuatan. MILF yang memisahkan diri dari MNLF pada 1978 diketuai oleh Hashim Salamat. MILF lebih relijius dibanding MNLF. Ada pula sebuah faksi kecil lain yang lebih radikal, Abu Sayaff, yang muncul pertama kali pada 1992. Faksi ini dipimpin Abdulrajak Janjalani.

MILF tidak diajak berunding oleh Manila. Selama ini Manila hanya mau berdialog dengan Nur Misuari, komandan MNLF. Ini dimanfaatkan oleh MILF untuk berkonsentrasi membangun kekuatan militer. Terutama terpusat di Kamp Abubakar, di perbatasan Propinsi Maguindanao dan Lanao del Norte, hanya 10 kilometer dari markas Polisi Nasional Filipina.

Kalangan intelijen militer mengingatkan kemungkinan ofensif MILF bila perundingan antara Manila da MNLF gagal. MNLF sendiri bisa kembali keras karena para pejuang mudanya kini banyak menduduki posisi penting di tubuh kelompok ini. Mereka lebih militan dan ingin menjadikan Moro sebagai negara merdeka, terlepas dari Manila. Bagi mreka, status otonomi sama saja artinya dengan penyerahan diri. Sikap ini sama dengan MILF yang mencita-citakan sebuah negara Moro merdeka berdasarkan syariah Islam.

Pertanyaan yang tersisa adalah, apakah perundingan nantinya bisa mendatangkan  perdamaian? Seorang anggota MNLF hanya mampu berkata, “Insya Allah.” Namun kenyataan di lapangan sulit ditebak. Rasa pesimis dan sinis masih tebal di Mindanao.*   

Rekonsiliasi Tersandung di Aljazair

Oleh Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT Tahun I No. 3, 7 Agustus 1995 / 10 Rabiul Awal 1416 H

Perundingan damai junta militer dengan FIS gagal. Maka ketidakpastian politik terus menyelimuti negeri “sejuta syuhada” itu.

PRESIDEN LIAMINE ZEROUAL. Tak berdaya

Perdamaian tak jadi datang di Aljazair. Presiden Liamine Zeroual mengumumkan (11/7) bahwa perundingan dengan FIS telah gagal. Menurutnya, posisi ketujuh pemimpin FIS, termasuk Abbasi Madani (ketua FIS) dan Ali Belhadj, “amat berlawanan dengan kerangka dialog nasional”. Serangkaian pembicaraan rahasia telah diadakan sejak Madani menulis surat pada pemerintah Aljir 9 April lalu guna mengakhiri jalan buntu  antara FIS dan pemerintah. 

Pengumuman ini cukup mengejutkan. Sebab, sebelumnya Zeroual mengatakan telah mencapai kata sepakat dengan Abbas Madani. Para pemimpin FIS akan dibebaskan dari penjara dan partai itu boleh kembali ke gelanggang politik meski dengan nama lain. Dan FIS akan mengumumkan penghentian segala bentuk kekerasan.
BACA SELENGKAPNYA “Rekonsiliasi Tersandung di Aljazair”