Pembantaian di Fallujah

Teror Junta Teroris

Oleh: MANSYUR ALKATIRIPenulis adalah peneliti di Indonesia Institute of Peace and Justice (INPEACE).

Dimuat di: Koran Tempo, Kamis, 16 Desember 2004

“Rumah tetangga kami diserbu. Mereka membunuh seluruh delapan anggota keluarga itu: Ibu Hazima Mohsen, dua anak lelakinya, dua anak perempuannya, seorang menantu perempuan, dan dua orang cucunya yang masih kanak-kanak. Pasukan Amerika membantai atas nama Al-Zarqawi. Salah satu wanita yang mati itu bahkan sedang hamil tujuh bulan. Si janin lantas keluar dari tubuhnya, dan masih hidup sampai enam jam sebelum kemudian mati” (Umm Waddah, warga Fallujah).

Umm Waddah lari dari Fallujah Ke Bagdad sehari setelah sebuah peluru kendali yang dilepaskan pesawat Amerika menghantam rumah tetangganya, Ghanems, di tengah malam, dan membuat sebagian tubuh keluarga itu berserakan sampai ke atap rumahnya.

Tak ada pria bersenjata di rumah itu, apalagi teroris. Tapi, bagi Amerika, seluruh warga Fallujah adalah teroris, tak peduli mereka itu bayi, ibu-ibu, lelaki jompo yang tak mampu lagi berjalan, bahkan janin yang masih ada di perut ibunya.

Abu Mussab al-Zarqawi adalah warga Yordania yang dituding oleh Amerika sebagai kaki tangan Al-Qaidah, dan mengepalai kelompok ‘teroris Muslim’ di Irak (al-Tawhid wal-Jihad). Washington menuding Al-Zarqawi dan para pengikutnya dari berbagai negara Arab telah bersembunyi di Fallujah.

BACA SELENGKAPNYA “Pembantaian di Fallujah”

Sharon Membunuh Yassin & Perdamaian

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

Dimuat di Harian SOLOPOS, Hal. 1, Rabu Kliwon, 24 Maret 2004

Apa yang dicari oleh Perdana Menteri (PM) Israel Ariel Sharon dengan membunuh seorang tua renta, buta, lagi lumpuh kedua kaki dan tangannya seperti Syeikh Ahmad Yassin?

Sharon berdalih, Syeikh Yassin merupakan otak serangan bom bunuh diri Palestina ke wilayah Israel. Dan, kematian Yassin sedikit banyak bakal meredam aksi-aksi sejenis di Israel. Tapi mungkinkah seorang yang lemah fisik seperti itu menjadi otak rangkaian “bom manusia” yang telah merenggut nyawa ratusan warga Yahudi Israel? Lantas, apakah serangan bom bunuh diri Palestina akan berhenti sepeninggal Sheikh Yassin?

Seorang ulama yang sangat dihormati seperti Syeikh Yassin barangkali memang menjadi inspirasi bagi pemuda dan pemudi Palestina untuk meledakkan diri di tengah kerumunan warga Israel. Namun, itu tidak cukup untuk menyebutnya sebagai otak serangan bom bunuh diri. Dibutuhkan kekuatan fisik, intelektual, dan mental baja untuk mengkoordinasi serangkaian serangan mematikan seperti itu.

BACA SELENGKAPNYA “Sharon Membunuh Yassin & Perdamaian”

Bom Alqaidah di Karbala?

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

(Penulis adalah peneliti pada Indonesia Institute of Peace and Justice, INPEACE)

Dimuat di: Koran Tempo, Jumat, 5 Maret 2004

Rentetan serangan dahsyat yang memporak-porandakan peringatan Asyura oleh warga Syiah Irak di kota Baghdad dan Karbala, Selasa (2/2), kembali menegaskan betapa Irak di bawah pendudukan Amerika Serikat makin menuju ke titik kehancuran. Semakin lama usia pendudukan Amerika, semakin gelap nasib negara yang pernah menjadi kekuatan superpower dunia dimasa Dinasti Abbasiyah dulu.

Serangan bom di kota suci Syiah Karbala dan di kawasan Syiah di Baghdad membawa pesan kuat bahwa serangan ini memang ditujukan bagi komunitas Syiah Irak. Masjid-masjid yang diserang adalah masjid kaum Syiah, dan momentumnya adalah peringatan Asyura yang sarat dengan ritual ke-Syiahan. Dan segera setelah peledakan itu rumor deras pun menyergap, bahwa pelaku pemboman adalah para loyalis Saddam Hussein yang umumnya warga Muslim Sunni.

Untung saja para ulama Syiah di Karbala dan Baghdad segera meredam rumor itu. Seorang ulama di Karbala langsung menyatakan bahwa pemboman itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang Muslim sekalipun berbeda mazhab, karena semua Muslim itu bersaudara. Dari pihak warga Sunni muncul pula solidaritas dengan menyumbangkan darah bagi para korban.
BACA SELENGKAPNYA “Bom Alqaidah di Karbala?”

George Bush Si Pendusta

George Bush Si Pendusta

Oleh: MANSYUR ALKATIRI  (Peneliti pada Indonesia Institute of Peace Jakarta)

Dimuat di: Koran Tempo, Jumat, 6 Februari 2004

Mansyur Alkatiri
Mansyur Alkatiri

George Walker Bush mungkin saja akan terpilih sebagai presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya, dalam pemilihan umum November mendatang. Dukungan dana luar biasa dari perusahaan-perusahaan multinasional, terutama yang bergerak di sektor energi, industri militer, dan teknik rekayasa, seakan menjamin ambisi presiden paling pandir dalam sejarah negara adidaya itu untuk tetap tinggal di Gedung Putih. Apalagi, ia diperkuat oleh para intelektual dan kelompok lobi zionis Yahudi garis keras (neo-conservatives) yang cerdas-cerdas, seperti Paul Wolfowitz, Richard Perle, Douglas Feith, dan Lewis Libby.

Sejarah mungkin bakal mengabadikannya sebagai orang paling besar di keluarga besar raja minyak Texas itu, karena Bush Jr. mampu melampaui prestasi ayahnya (Bush Sr) yang hanya mampu sekali saja menjadi presiden AS.

Tapi, sejarah juga akan mengenang, dibalik prestasi gemilangnya itu, Bush Jr. juga seorang “pendusta besar”. Agresi terhadap Irak yang telah memecah opini masyarakat dunia dalam dua kutub besar pro dan anti perang itu, menjadi puncak dari dusta-dusta itu.

George Bush yang didorong penuh oleh Wolfowitz Cabal (Geng Wolfowitz) menyerbu Irak dengan alasan resmi untuk menghancurkan senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction/WMD) Irak, yang menurut Washington masih terus disembunyikan oleh rezim Saddam Hussein. Bush bahkan tidak mau mempercayai hasil kerja tim inspeksi senjata PBB, yang tidak menemukan senjata-senjata itu, kendati telah mengobok-obok ribuan tempat yang dicurigai.
BACA SELENGKAPNYA “George Bush Si Pendusta”

Setelah Road Map Arab-Israel Disodorkan

Oleh: Mansyur Alkatiri *

(Penulis adalah peneliti pada Indonesia Institute of Peace and Justice, INPEACE)

Dimuat di: Koran Tempo, Sabtu, 10 Mei 2003

Dokumen Peta Jalan (Road Map) bagi perdamaian Arab-Israel yang diserahkan pejabat AS dan Uni Eropa ke pemimpin Israel dan Palestina pekan silam memang menjanjikan penyelesaian menyeluruh bagi konflik lama ini. Namun, harapan cerah itu bukan mustahil kembali akan musnah, seperti nasib Kesepakatan Oslo yang ditandatangani PM Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat pada 1993 di Washington.

Substansi dua kesepakatan itu memang tidak banyak berbeda, yaitu menjanjikan sebuah negara Palestina merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza, berdampingan dengan negara Yahudi Israel. Sedangkan status kota suci Jerusalem Timur yang diklaim kedua pihak sebagai calon ibukota abadi mereka, harus ditentukan melalui perundingan.

Kesepakatan Oslo berantakan setelah Yitzhak Rabin dan Shimon Peres mengulur-ulur implementasinya. Sementara itu, pemerintah Partai Likud yang berkuasa kemudian tak lagi peduli dengannya, bahkan berantakan sama sekali setelah Ariel Sharon menjadi Perdana Menteri sejak dua tahun lalu.
BACA SELENGKAPNYA “Setelah Road Map Arab-Israel Disodorkan”