Afrika di Piala Dunia

SEKARANG GILIRAN AFRIKA?

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 46 Thn. III, 8 Juni 1998

Dengan “legiun asing”nya, Nigeria berpeluang menjadi juara dunia.

TIM NIGERIA DI PIALA DUNIA 1998. Harapan Afrika!
TIM NASIONAL NIGERIA DI PIALA DUNIA 1998. Harapan Afrika!

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, benua Afrika berpeluang besar melahirkan juara dunia. Kans itu ada pada tim Nigeria, yang berjulukan The Super Eagles, atau Elang-Elang Super. Dengan talenta-talenta besar yang tersebar di klub-klub Eropa, Nigeria bisa dikatakan sejajar dengan tim kuat manapun dari Eropa dan Amerika Latin.

Penilaian seperti itu mungkin saja dicibir sebagian orang, yang masih percaya pada hegemoni tim Eropa dan Amerika Latin. Padahal kalau mau jujur, anggapan itu kini tak tepat lagi. Daniel Amokachi dkk sudah membuktikannya dengan sukses meraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996. Negara pertama di luar Eropa dan Amerika Latin yang merebut gelar itu.


Tak tanggung-tanggung, Nigeria melibas dua raksasa Amerika Latin, Brazil dan Argentina, di babak semi final dan final. “Kami punya tim yang bisa mengalahkan negara manapun di dunia,” tukas Chief Idama, ketua klub terkemuka Nigeria, Julius Berger. “Setiap orang di Nigeria kini memimpikan Piala Dunia, karena kami sadar kekalahan di AS sangat menyakitkan,” tambahnya. Empat tahun silam, Nigeria dikalahkan Italia, 1 – 2, lewat perpanjangan waktu di babak perdelapan final, meski sempat unggul 1 – 0 sampai menit ke-88.

Maka, entah karena ngeri pada kemungkinan larinya piala terhormat itu ke Afrika, atau memang jujur dengan alasan-alasan yang mereka kemukakan, beberapa negara Eropa kini getol berkampanye agar Nigeria dilarang tampil di Perancis. Mereka beralasan, rezim militer pimpinan Jendral Muhammad Sani Abacha terus mempraktekkan pelanggaran HAM.

Tapi sayangnya mereka tak mengomentari Yugoslavia, yang tentaranya tengah membantai warga sipil di Kosovo. Di waktu silam, juga tak ada kampanye serupa terhadap negara-negara komunis Eropa Timur, yang sangat gamblang melanggar HAM. Rezim militer kejam di Argentina justeru dihadiahi tuan rumah Piala Dunia 1978. Jadi tak salah kalau ada yang menaruh syak wasangka, jangan-jangan kampanye itu dilakukan untuk mencegah Piala Dunia lari ke Afrika.

Manusia Raksasa

Kekuataan Nigeria yang bertumpu pada legiun asingnya, memang pantas membuat miris elite sepakbola sekarang. Lini belakang, tim ini akan digalang oleh Taribo West, pentolan Inter Milan, dan dua pemain Fenerbahce (Turki) Uche Okechukwu dan Augustine Okocha. Adapula Celestine Babayaro di Chelsea. Uche dan Okocha baru-baru ini masuk Islam dan berganti nama Rahim Uche dan Mohammet Okocha.

Di lapangan tengah, berjubel sederetan nama besar yang akan membuat pelatih Bora Milutinovic pusing untuk memilihnya. Ada Sunday Oliseh (Ajax), Mutiu Adepoju (Real Sociedad), Garba Ahmad Lawal (Roda JC Kerkrade), Tijani Babangida (Ajax) dan Finidi George (Real Betis).

Di barisan depan berkumpul Daniel Amokachi (Besiktas), Victor Ikpeba (Monaco), Nkwankwo Kanu (Inter Milan) dan Emmanuel Amunike (Barcelona). Amokachi dan Kanu -kapten tim Olimpiade 96- bisa bermain pula dari lapangan tengah. Masih ada pula pemain senior Rashidi Yekini. Ikpeba (25), adalah pemain terbaik Afrika tahun ini, sedang Amokachi tahun sebelumnya.

Amokachi (25) mencetak 4 dari 9 gol Nigeria di penyisihan Piala Dunia zone Afrika. Ia bersama Kanu berperan besar membawa Nigeria menjuarai Olimpiade 1996. Di Piala Dunia AS, ia mencetak dua gol, yang membawa timnya melaju ke babak kedua.

Amokachi lahir di Kaduna, bagian barat Nigeria. Di masa kecil, ia suka bermain bola di jalanan. “Saya bermain dengan kaki telanjang. Bolanya dari kertas yang dibuat bundar dan padat. Tak ada aturan,” ujarnya suatu waktu. Bakatnya yang besar, membuat Club Brugge terpincut. Klub tenar Belgia itu membawa Amokachi ke Eropa, saat usianya baru 16 tahun.

Ayahnya, seorang opsir tentara, mulanya tak setuju Amokachi hidup sebagai pemain bola. Ia ingin anaknya belajar menjadi ahli hukum. “Semula saya rahasiakan maksud saya itu. Saya takut ditempeleng ayah. Tapi kini saya justeru jadi kebanggan orang tua saya. Dengan FC Brugge saya menjadi juara Belgia, dan dengan Nigeria saya menjadi juara Afrika dan Olimpiade. Sementara dengan bermain bola, saya memperoleh cukup banyak uang,” akunya.

Saat ini Amokachi bermain di Besiktas, klub kaya asal Istanbul (Turki), setelah sempat dua tahun nongkrong di Everton (Inggris). Di Nigeria, ia dijuluki Owofen ‘manusia raksasa’, sedang Di Brugge, ia dijuluki de Buffel ‘si kerbau’. Itu karena badannya yang kuat, besar dan atletis.

Diperkirakan namanya akan bersinar di Perancis, bersama kepak sayap tim Elang Super. Kendati cukup makmur di Besiktas, Amokachi tetap berharap bisa bermain di klub elite Eropa. Jika ia tampil baik, pintu terbuka lebar baginya. Sedang bagi Nigeria sendiri, yang penduduknya kini terbelah antara pendukung dan penentang rezim Sani Abacha, hasil baik di Perancis, bisa menjadi alat pemersatu, meski sejenak.

Mansyur Alkatiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *