Bulgaria, Eksodus Baru Muslim

GELOMBANG BARU EKSODUS ETNIS TURKI

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 45 Thn. III, 1 Juni 1998

Muslim di Bulgaria dilanda kemiskinan berat. Banyak yang lantas eksodus ke Turki

Masjid di Sofia. Harapan Bersama Allah
Masjid di Sofia. Harapan Bersama Allah

Antena parabola menjulang di atap-atap rumah warga keturunan Turki di desa Rogozche, Bulgaria. Barang itu memungkinkan pemiliknya menerima acara-acara televisi dari negeri leluhur mereka: Turki. Tapi barang itu pula yang nampaknya jua membuat banyak rumah di Rogozche, kini sudah tak berpenghuni. Seolah menjadi saksi diam eksodus warga Muslim etnis Turki ke negara Turki.

Perginya orang-orang itu ke Turki, mengingatkan pada eksodus 300.000 etnis Turki Bulgaria ke Turki pada 1989, akibat kampanye keji rezim komunis Todor Zhivkov. Warga keturunan Turki saat itu dipaksa untuk mengikuti budaya Bulgaria, termasuk nama dan adat istiadatnya.

Namun motif eksodus sekarang berbeda. Mereka lari karena tak kuat didera kemiskinan dan pengangguran. Dan harapan untuk bisa beremigrasi ini muncul setelah mereka melihat televisi satelit Turki. “Jika saya punya peluang, saya akan pergi sekarang jua, tanpa membawa harta benda,” ujar Ilias (32), yang mantan pengemudi. Keinginannya itu merefleksikan perasaan umum etnis Turki disana.

Dari yang tua sampai yang muda, semua ingin meninggalkan Bulgaria. Mereka memberi alasan sama: “Tak ada pekerjaan, tak ada uang.” Di masa komunisme, negara punya cukup pabrik di wilayah tersebut, hingga penduduk usia kerja tertampung.

Kebanyakan pabrik itu kini telah bangkrut. Akibatnya angka pengangguran di Kardzhali dan kota-kota konsentrasi etnis Turki, jauh diatas wilayah lainnya.

Menurut Rassim Mousa, walikota Kardzhali -dimana desa Rogozche berada- dan yang berasal dari partai Gerakan bagi Kebebasan dan Hak-Hak Asasi (MRF), diseluruh kota angka pengangguran sudah diatas 30 persen. Di beberapa desa bahkan mencapai 90 persen.

Ide Nasionalis

Kondisi yang dihadapi Muslim keturunan Turki bertambah berat dengan munculnya pergulatan kekuasaan lokal. Kardzhali, terletak di pegunungan Rhodope yang cantik.

Politisi lokal dari partai UDF yang berhaluan kanan-tengah telah membentuk aliansi dengan mantan partai komunis, yang nota bene adalah musuh mereka di tingkat nasional. Aliansi ini ditentang oleh MRF, yang menguasai Kardzhali.

Aliansi itu menginginkan diadakannya referendum untuk memecah daerah pemilihan. Mereka ingin memisahkan kota Kardzhali yang tingkat ekonominya lebih maju, dari desa-desa miskin disekitarnya. Nah, desa-desa itu umumnya dihuni oleh warga miskin keturunan Turki, pendukung MRF. Sebaliknya di kota, penduduk etnis Bulgaria yang Krsten Ortodoks lebih dominan.

“Adalah mengherankan bahwa dua partai yang amat berbeda platform-nya bisa bersatu menghadapi usulan itu,” ujar Mousa pada kantor berita Reuters. “Saya secara pribadi berpikir, yang menyatukan mereka adalah ide nasionalis.”

Bulgaria pernah 500 tahun berada dibawah Khilafah Usmaniyah. Namun hubungan antara kedua etnis baik-baik saja selama satu abad ini, kecuali saat diktator komunis Zhivkov menerapkan kebijakan Bulgarianisasi.

Setelah eksodus 1989, jumlah etnis Turki masih 10 persen dari seluruh penduduk Bulgaria. Tapi perpindahan akhir-akhir ini bisa menurunkan persentase itu. Walikota Mousa berkata, jumlah etnis Turki di wilayahnya sekarang tinggal 86.000 dari 110.000 jiwa sebelumnya. Jumlah itu masih 80 persen dari seluruh penduduk.

Seorang pria pengumpul tagihan listrik di Rogozche bahkan menerangkan,  di daerahnya kini hanya tinggal 28 keluarga di 15 desa.

Bulgaria masih tergoncang karena krisis keuangan berat tahun lalu. Pemerintah pusat hanya punya sedikit uang. “Hidup kami sangat berat, maka setiap orang mencoba pergi,” ujar Medjit Umar, lelaki tua yang dengan sabar menunggu pembayaran pensiun di kota Dzhebel.

“Tak ada pekerjaan disini. Semua orang telah pergi. Ada yang ke Turki, ada yang ke Albania,” tambah Umar. “Tak ada pekerjaan, tak ada uang. Anak-anak muda menunggu uang pensiun kami agar bisa hidup,” timpal seorang wanita tua yang juga tengan menunggu uang pensiun.

Disaat industri lokal tak ada lagi, tembakau kini menjadi satu-satunya sumber nafkah dan keluarga bekerja keras memproduksi salah satu tembakau terbaik di dunia itu.

“Kami tak punya pilihan lain. Maka banyak orang menanam tembakau,” tutur Osman Zekeria (43), mantan buruh tambang. Ia hidup bersama isteri dan dua anak lelakinya. Mereka adalah keluarga suku Pomaks, Muslim asli Bulgaria. Peralatan yang ia gunakan sudah ketinggalan jaman.

Seperti banyak warga lainnya, mereka menandatangani kontrak dengan perusahaan kurang terkenal tahun lalu, yang hanya memberi keuntungan kecil bagi petani.

Bagi penduduk yang begitu miskin, tak ada lagi yang mereka gantungkan kecuali iman. “Seseorang tak bisa hidup tanpa harapan,” tukas seorang pria tua, yang muncul dari sebuah masjid di kota Dzhevel. “Dan harapan kami adalah bersama Allah.”

(Mansyur Alkatiri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *