Pembantaian di Qibya, Palestina, 14 Oktober 1953

DESA QIBYA SETELAH PEMBANTAIAN. Saksi bisu kebiadaban Zionis Israel

Oleh MANSYUR ALKATIRI (Peminat Sejarah dan Dunia Islam)

Jarum jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Sebagian warga Desa Qibya dan Ni’lin di Tepi Barat (Palestina) sudah tidur, terutama anak-anak, dan sebagian lagi juga siap ke tempat tidur. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dentuman mortir berkali-kali. Lalu, dalam hitungan detik, tembakan-tembakan mortir dan juga granat itu menghantam rumah-rumah mereka, merobohkan tembok dan atap, dan menimpa para penghuninya hingga meregang ajal. Warga desa yang kebingungan dan selamat dari runtuhan rumah mereka berhamburan keluar. Namun, tubuh-tubuh mereka disambut oleh berondongan senapan mesin sekitar 400 serdadu Israel. Tubuh-tubuh tak berdosa itu pun bergelimpangan di tanah.

Peristiwa biadab ini terjadi enam puluh tujuh tahun yang lalu, tepat 14 Oktober 1953. Ratusan tentara Israel, termasuk dari Unit Komando 101 pimpinan Ariel Sharon, membantai warga sipil Palestina itu dengan darah dingin. Tak ada iba sama sekali. Mereka bak gerombolan iblis berwujud manusia.

BACA SELENGKAPNYA “Pembantaian di Qibya, Palestina, 14 Oktober 1953”

Sharon Membunuh Yassin & Perdamaian

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

Dimuat di Harian SOLOPOS, Hal. 1, Rabu Kliwon, 24 Maret 2004

Apa yang dicari oleh Perdana Menteri (PM) Israel Ariel Sharon dengan membunuh seorang tua renta, buta, lagi lumpuh kedua kaki dan tangannya seperti Syeikh Ahmad Yassin?

Sharon berdalih, Syeikh Yassin merupakan otak serangan bom bunuh diri Palestina ke wilayah Israel. Dan, kematian Yassin sedikit banyak bakal meredam aksi-aksi sejenis di Israel. Tapi mungkinkah seorang yang lemah fisik seperti itu menjadi otak rangkaian “bom manusia” yang telah merenggut nyawa ratusan warga Yahudi Israel? Lantas, apakah serangan bom bunuh diri Palestina akan berhenti sepeninggal Sheikh Yassin?

Seorang ulama yang sangat dihormati seperti Syeikh Yassin barangkali memang menjadi inspirasi bagi pemuda dan pemudi Palestina untuk meledakkan diri di tengah kerumunan warga Israel. Namun, itu tidak cukup untuk menyebutnya sebagai otak serangan bom bunuh diri. Dibutuhkan kekuatan fisik, intelektual, dan mental baja untuk mengkoordinasi serangkaian serangan mematikan seperti itu.

BACA SELENGKAPNYA “Sharon Membunuh Yassin & Perdamaian”

Setelah Road Map Arab-Israel Disodorkan

Oleh: Mansyur Alkatiri *

(Penulis adalah peneliti pada Indonesia Institute of Peace and Justice, INPEACE)

Dimuat di: Koran Tempo, Sabtu, 10 Mei 2003

Dokumen Peta Jalan (Road Map) bagi perdamaian Arab-Israel yang diserahkan pejabat AS dan Uni Eropa ke pemimpin Israel dan Palestina pekan silam memang menjanjikan penyelesaian menyeluruh bagi konflik lama ini. Namun, harapan cerah itu bukan mustahil kembali akan musnah, seperti nasib Kesepakatan Oslo yang ditandatangani PM Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat pada 1993 di Washington.

Substansi dua kesepakatan itu memang tidak banyak berbeda, yaitu menjanjikan sebuah negara Palestina merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza, berdampingan dengan negara Yahudi Israel. Sedangkan status kota suci Jerusalem Timur yang diklaim kedua pihak sebagai calon ibukota abadi mereka, harus ditentukan melalui perundingan.

Kesepakatan Oslo berantakan setelah Yitzhak Rabin dan Shimon Peres mengulur-ulur implementasinya. Sementara itu, pemerintah Partai Likud yang berkuasa kemudian tak lagi peduli dengannya, bahkan berantakan sama sekali setelah Ariel Sharon menjadi Perdana Menteri sejak dua tahun lalu.
BACA SELENGKAPNYA “Setelah Road Map Arab-Israel Disodorkan”

Ehud Barak dan Netanyahu

DUA SISI MATA UANG

Oleh:  Mansyur Alkatiri

Dimuat di: Harian SUARA MERDEKA, 9 Agustus 1999

mansyur-alkatiriApa beda Ehud Barak dengan Netanyahu? Di hari-hari pertama jabatannya sebagai perdana menteri Israel, Barak disambut antusias oleh para pemimpin Palestina dan Arab sebagai figur yang bisa membawa Israel dan Arab ke suasana perdamaian. Ia pun mendapat simpati besar ketika berkunjung ke Gaza, Kairo, Amman, Washington dan London. Tapi itu ternyata tak berlangsung lama. Para pemimpin Arab kembali harus menelan kekecewaan. Barak ternyata tak seluwes yang mereka kira.

“Barak dan Netanyahu itu ibarat dua sisi dari mata uang yang sama,” ungkap Faruq Kaddumi, Kepala Biro Luar Negeri PLO. Kaddumi pantas kecewa berat karena ia baru saja mulai berubah sikap, lebih melunak pada jalannya proses perdamaian setelah Barak berhasil menjadi perdana menteri menyingkirkan Netanyahu. Ia dulu keras menolak Kesepakatan Oslo antara PLO dan Israel, yang dianggapnya sangat merugikan Palestina.

Kaddumi tak sendirian. Banyak kalangan Arab kini mempertanyakan ketulusan Barak untuk perdamaian. Ataukah ia cuma sekedar beretorika demi kepentingan public relations negara Yahudi itu, yang terpuruk hebat di masa pemerintahan Benyamin Netanyahu?

BACA SELENGKAPNYA “Ehud Barak dan Netanyahu”

Israel Connection di Balik Skandal Clinton-Lewinsky (Bagian 2)

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

Peneliti pada Indonesia Society for Middle East Studies (ISMES)

Dimuat di: Harian REPUBLIKA, Selasa 17 Februari 1998, Halaman 10.

Dalam pandangan Curtiss, kecurigaan adanya Israel Connection makin terbuka setelah surat kabar terkemuka Israel Yediot Ahronot mewawancarai pengacara Lewinsky, William Ginsbert, dan bertanya apakah mereka berdua menginginkan Clinton turun sebagai presiden akibat tuduhan skandal itu. Ginsberg menjawab: “Justru sebaliknya. Kami pendukung Presiden Clinton dan menyukai posisi dan kebijakannya menyangkut Israel. Clinton sangat positif pada Israel dan Yahudi, dan Monica dan saya adalah Yahudi.”

Menurut surat kabar Israel itu, Ginsberg menguraikan lebih jauh perasaannya sendiri. “Saya menangis karena saya takut pada nasib kepresidenan dalam demokrasi kami. Saya tak ingin presiden mundur, karena saya tak tahu siapa pengganti Clinton dan bagaimana nantinya ia berhubungan dengan Israel?”

Nampak Ginsberg sebagai seorang Yahudi AS begitu concern dengan Israel. Ia tak mau berspekulasi dengan presiden baru yang belum diketahui posisinya terhadap Israel. Tapi bagi kaum Yahudi pro-Likud di AS, mereka tahu persis bahwa Al Gore , wakil presiden sekarang, lebih mudah mereka kendalikan dibanding Clinton.

BACA SELENGKAPNYA “Israel Connection di Balik Skandal Clinton-Lewinsky (Bagian 2)”

Israel Connection di Balik Skandal Clinton-Lewinsky (Bagian 1)

Mansyur Alkatiri

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

Peneliti pada Indonesia Society for Middle East Studies (ISMES)

Dimuat di: Harian REPUBLIKA, Senin 16 Februari 1998, Halaman 10.

Kamis, 22 Januari 1998, Presiden Palestina Yasser Arafat mendapat kesempatan berharga untuk mempengaruhi opini publik Amerika Serikat. Arafat akan membuat ajakan langsung pada rakyat AS agar mau campur tangan menyelamatkan proses perdamaian Timur Tengah. Ajakan itu akan disampaikan lewat media massa Amerika, dalam sebuah konferensi pers langka di Gedung Putih bersama Presiden Bill Clinton.

Pesan Arafat sangat penting mengingat dua hari sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu di tempat yang sama menolak memenuhi komitmen penarikan mundur dari wilayah Palestina, yang sebelumnya telah ditandatangani pemerintah Partai Buruh pimpinan Yitzhak Rabin pada September 1993 dan 1995. Ini kesempatan berharga bagi Arafat untuk membongkar dan menunjukkan betapa Netanyahu seorang keras. Arafat pun berkesempatan mengimbau seluruh rakyat Amerika –khususnya Presiden Bill Clinton- agar berperan sebagai “penengah yang jujur” dalam proses perdamaian yang telah lama tertunda itu.

Seperti lazimnya sebuah konferensi pers penting di Gedung Putih, pesan itu semestinya menghiasi halaman muka koran-koran besar Amerika. Dan Palestina bakal mengambil keuntungan besar darinya. Di lain pihak kerugian besar bagi citra pemerintah Israel.

BACA SELENGKAPNYA “Israel Connection di Balik Skandal Clinton-Lewinsky (Bagian 1)”

Israel Siksa Tahanan Palestina

MENYOAL HAK ISRAEL MENYIKSA TAHANAN

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dimuat di: Majalah UMMAT, No. 45 Thn. III, 1 Juni 1998 / 5 Safar 1419 H

Penggunaan cara-cara kekerasan terhadap tahanan Palestina, ditentang keras lembaga-lembaga HAM

METODE PENYIKSAAN ISRAEL DI PENJARA. Cara-cara hina rezim kejam
METODE PENYIKSAAN ISRAEL DI PENJARA. Cara-cara hina rezim kejam

Selama diinterogasi agen rahasia Israel di tahun 1996, setiap harinya kepala Abed Ahmar, seorang aktifis Palestina, ditutupi kerudung yang dibasahi air seni dan kotoran. Kadang-kadang, ia digoncang-goncangkan cukup keras atau diikat dalam posisi menyakitkan.

Setelah dua bulan interogasi, agen-agen Shin Bet itu datang dengan tangan kosong. Tak lagi menyiksa. Mereka pun membebaskan Abed Ahmar, anggota sebuah faksi PLO yang menentang perjanjian damai dengan Israel, begitu saja. Ahmar tak dikenakan tuduhan apapun. Dengan kata lain, ia tak bersalah.

Kasus yang menimpa Abed Ahmar dan ribuan warga Palestina lainnya yang pernah menjalani penyiksaan serupa, kini untuk pertama kalinya ditanggapi oleh Mahkamah Agung Israel. MA memutuskan membuka dengar pendapat kasus itu mulai Rabu (20/5) kemarin, untuk menguji pendirian Shin Bet bahwa mereka perlu menggunakan metode kekerasan terhadap tahanan Palestina, guna mengorek informasi dari kaum militan, dan mencegah serangan teror terhadap Israel.
BACA SELENGKAPNYA “Israel Siksa Tahanan Palestina”

Pesta Yahudi di Atas Derita Palestina

PESTA YAHUDI DI ATAS DERITA PALESTINA

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 44 Thn. III, 25 Mei 1998

Palestina memperingati 50 tahun Nakbah, ditengah pesta Yahudi merayakan 50 tahun negara Israel.

Palestinian refugees fleeing Galilee in the fall of 1948
WARGA PALESTINA TERUSIR DARI GALILEE (1948). Nestapa kemanusiaan yang tak kunjung usai

 

Ketika bangsa Yahudi berpesta menyambut 50 tahun berdirinya negara Yahudi Israel, bangsa Palestina menangis, teringat kembali kenangan pahit tahun 1948. Saat itu, sekitar 800 ribu orang Palestina –waktu itu separuh populasi warga Palestina– diusir atau lari, dirampas hak miliknya, diduduki rumah dan tanahnya.

Mereka namakan itu Nakbah atau Malapetaka. Dan hantu itu kini muncul begitu pekat ketika kaum penjarah Zionis itu berpesta merayakan 50 tahun berdirinya Negara Israel, 15 Mei lalu. Tak heran kalau kaum muda Palestina menanggapi perayaan kaum Zionis itu dengan demonstrasi penuh kekerasan hari-hari ini.
BACA SELENGKAPNYA “Pesta Yahudi di Atas Derita Palestina”

Palestina Tolak Didikte AS

Ketika ‘Dikte’ AS Tak Mempan

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 43 Thn. III, 18 Mei 1998

Pertemuan London gagal total. Tekanan AS melahirkan friksi dengan Israel.

YASSER ARAFAT dan BENYAMIN NETANYAHU
YASSER ARAFAT dan BENYAMIN NETANYAHU

Seperti diduga sebelumnya, perundingan London berakhir tanpa hasil. Pemimpin Palestina Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu duduk di meja perundingan, lantas mengemukakan tuntutan masing-masing dan tak ada titik temu. Lalu pertemuan Senin dan Selasa pekan silam itupun ditutup tanpa kesepakatan apapun.

Perundingan London berlangsung sepertinya hanya untuk memenuhi formalitas undangan tuan rumah -PM Tony Blair- belaka. Semuanya seperti basa-basi. Kalaupun ada terobosan, itu adalah ‘tekanan’ Amerika pada Netanyahu, yang cukup memojokkan posisi PM negara teroris Yahudi dukungan Washington tersebut. Dan itu lebih menarik perhatian dibanding pertemuan Arafat-Netanyahu sendiri.

Sebelum pertemuan dibuka, AS menekan Netanyahu agar menerima usulan Washington agar Israel mundur dari 13 persen wilayah Tepi Barat. Tapi Netanyahu bersikeras hanya mau menyerahkan 9 persen saja wilayah Tepi Barat, sesuai keputusan kabinet Israel. Sebaliknya Yasser Arafat, yang sebelumnya menuntut penarikan dari 30 persen wilayah Tepi Barat, akhirnya menyerah pada usulan AS.
BACA SELENGKAPNYA “Palestina Tolak Didikte AS”

Palestina, Saling Tuding Sendiri

Saling Tuding Saudara Sendiri

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 39 Thn. III / 20 April 1998

Pemerintah Palestina yakin Mohieddin Sharif dibunuh rekan sendiri. Sebaliknya Hamas menuduh pemerintah berkolaborasi dengan Israel

PEMIMPIN HAMAS ABDEL AZIZ RANTISI. Tak percaya hasil penyelidikan pemerintah Otoritas Palestina
PEMIMPIN HAMAS ABDEL AZIZ RANTISI. Tak percaya hasil penyelidikan pemerintah Otoritas Palestina


Jenazah Mohieddin Sharif sudah terkubur tenang di Pemakaman Syuhada, Ramallah. Namun kontroversi kematian komandan kelompok bersenjata Izzeddin al-Qassam di Tepi Barat itu terus meluncur. Kini bahkan menyibakkan pertentangan serius di antara warga Palestina sendiri.

Awalnya adalah pengumuman pihak keamanan Palestina, yang menyatakan Mohieddin tewas akibat pergulatan kekuasaan di dalam tubuh Hamas sendiri. Pernyataan ini ditolak keras Hamas, yang balik menuduh pemerintah Palestina turut berkomplot dengan Zionis Israel membunuh Mohieddin, guna menyelamatkan proses perdamaian PLO-Israel.
BACA SELENGKAPNYA “Palestina, Saling Tuding Sendiri”