Milisi Katolik Filipina Bakar Masjid dan Ratusan Rumah Muslim

Teror Api di Mindanao

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dimuat di: Majalah UMMAT, No. 15 Thn. II/ 20 Januari 1997

Kelompok Kristen radikal membakar masjid dan ratusan rumah warga Muslim di Filipina Selatan.

MILISI KATOLIK FILIPINA. Terkenal kejam membantai Muslim

Kelompok Kristen radikal berulah lagi di Filipina Selatan. Mereka membakar sebuah Masjid dan sekitar 200 rumah warga Muslim di desa Bual, Propinsi North Cotabato, pada Selasa pertengahan Desember lalu. Tak ada korban jiwa, tapi ribuan penduduk desa kini menjadi pengungsi. Sementara kerugian harta benda belum diketahui.
BACA SELENGKAPNYA “Milisi Katolik Filipina Bakar Masjid dan Ratusan Rumah Muslim”

Fenomena Puasa di Mancanegara

Oleh MANSYUR ALKATIRI

Majalah UMMAT Tahun I No. 18, 4 Maret 1996 / 14 Syawal 1416 H

Dimana-mana Muslim melaksanakan ibadah puasa. Masjid penuh dengan jamaah tarawih.

Suasana Shalat Tarawih di sebuah masjid di kota Oslo, Norwegia.

Dari pelataran sebuah masjid di Hanoi, ibukota Vietnam, Doan Hong Cuong (42) memperhatikan orang-orang yang sedang santai merokok dan makan mie di kedai kaki lima. Pemandangan tersebut agaknya sedikit mengganggu kekhusyukan puasanya di bulan Ramadhan ini. Sekali-kali wajahnya berkerut, merenungkan betapa sulitnya menjadi seorang Muslim Vietnam. “Cukup sulit mengikuti perintah puasa secara khusyu dalam masyarakat yang jumlah musliminnya sangat kecil,” ujar Cuong yang tengah berpuasa pada Robert Templer dari kantor berita AFP.
BACA SELENGKAPNYA “Fenomena Puasa di Mancanegara”

Perundingan Damai Filipina-Moro

Menguji Ketulusan Ramos

Oleh Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT No. 11  Thn. I, 27 November  1995 / 4 Rajab 1416 H

Perundingan damai Manila-Moro terus bergulir di atas meja.  Di lapangan, militer terus menekan Moro.

Apakah pemerintah Manila berniat tulus memberi otonomi bagi wilayah Muslim di selatan? Kebanyakan warga muslimin disana memang tetap meragukannya. Apalagi setelah minggu-minggu ini pemerintah menggelar tentara secara besar-besaran di dua kota yang dikuasai Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Mindanao Tengah. Menurut seorang pemimpin gerilyawan MILF, penggelaran itu bisa membahayakan realisasi proyek jalan bebas hambatan Maguindanao-Lanao del Norte dan proyek eksplorasi minyak di kota Maguindanao.

“Hari demi hari, batas kamp-kamp kami semakin sempit. Kami tak bisa membiarkan hal ini terus berlangsung,” tegas Al Haj Murad, wakil ketua MILF.

MILF telah mengeluhkan meningkatnya kehadiran militer di kota Matanog, Barira, Buldon dan di Sultan sa Barongis di wilayah Maguindanao. Wilayah tersebut cukup kaya dengan gas dan minyak bumi.  Sebuah perusahaan Malaysia, Carigali Petronas, baru saja mulai melakukan pengeboran di sana.

BACA SELENGKAPNYA “Perundingan Damai Filipina-Moro”

Polisi Filipina Siksa Tahanan Muslim

Aparat kepolisian Manila telah memperlakukan beberapa tahanan Muslim Arab dengan tidak manusiawi. Hal ini terungkap dalam surat yang dikirimkan tiga tahanan mahasiswa kedokteran asal Yordania pada Kementerian Luar Negeri Yordania. Dalam suratnya, ketiga tahanan tersebut, Nidal Saleh Aodah, Ahmad, dan Muhammad Ghibran, mengadukan perlakuan polisi Manila yang tergolong sudah di luar batas perikemanusiaan.

Mereka bertiga disiksa dalam tahanan dengan berbagai cara. Bahkan beberapa butir bom, yang sewaktu-waktu bisa meledak, sempat dipadang di kantong mereka dengan tujuan menakut-nakuti. Beberapa perwira polisi pernah pula meminta uang tebusan sampai 25 juta peso atau sekitar US$ 1 juta, dan dengan itu baru mereka bisa bebas.

Ketiga Muslim ini dipenjara sejak 21 April lalu dengan tuduhan menyimpan sejumlah bahan peledak. Namun mereka menyangkal keras tuduhan tersebut. Teman-teman sekampus mereka yang berusaha membantu dengan mencarikan pengacara, telah ditekan pula oleh pihak kepolisian Filipina agar tak ikut campur.* – MA (Sumber: al-Mujtama)

Majalah UMMAT Tahun I No. 03, 7 Agustus 1995 / 10 Rabiul Awal 1416 H

BACA JUGA:
Mindanao Terus Menyimpan Bara
Rekonsiliasi Tersandung di Aljazair
Strategi Kotor Yahudi di Jerusalem

Mindanao Terus Menyimpan Bara

Antara Damai dan Perang

Oleh Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT Thn. I No. 03, 7 Agustus 1995 / 10 Rabiul Awal 1416 H

Mindanao tetap menyimpan bara. Ramos sulit menerima semua tuntutan Misuari. Militansi bangsa Moro pun kian menguat

Perundingan mengenai status Mindanao terus bergulir. Tapi bukan berarti ketegangan telah berakhir. Pemerintah Manila masih tak mau memenuhi syarat Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), yaitu otonomi bagi 12 propinsi di Mindanao dan pulau Palawan, wilayah selatan Filipina yang mayoritas beragama Islam.

Dalam Perjanjian Tripoli 1976, Manila sebetulnya telah menyetujui status otonomi tersebut. Namun penguasa Manila, baik Marcos, Aquino, maupun Fidel Ramos, selalu ingkar.

Bulan depan perundingan akan digelar kembali di Jakarta. Pembicaraan akan berkisar pada masalah pembagian pendapatan antara pemerintah pusat Manila dengan pemerintah propinsi otonomi, penyerapan kader-kader MNLF ke dalam militer Filipina, pelaksanaan hukum syariah, dan plebisit dalam pmerintahan otonomi. Ketua MNLF, Nur Misuari, tengah mendapat tekanan untuk memberi konsesi pada Manila.

Sembari berunding, gerilyawan Moro tetap siaga menghadapi segala kemungkinan, termasuk perang saudara kembali. Pasukan pemerintah Manila bahkan sudah bergerak menghantam beberapa basis gerilyawan. Peperangan baru memang sedang menghantui kawasan ini.

Gerilyawan Moro sendiri tidak berada dalam satu kubu. Selain MNLF, ada kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang terus membangun kekuatan. MILF yang memisahkan diri dari MNLF pada 1978 diketuai oleh Hashim Salamat. MILF lebih relijius dibanding MNLF. Ada pula sebuah faksi kecil lain yang lebih radikal, Abu Sayaff, yang muncul pertama kali pada 1992. Faksi ini dipimpin Abdulrajak Janjalani.

MILF tidak diajak berunding oleh Manila. Selama ini Manila hanya mau berdialog dengan Nur Misuari, komandan MNLF. Ini dimanfaatkan oleh MILF untuk berkonsentrasi membangun kekuatan militer. Terutama terpusat di Kamp Abubakar, di perbatasan Propinsi Maguindanao dan Lanao del Norte, hanya 10 kilometer dari markas Polisi Nasional Filipina.

Kalangan intelijen militer mengingatkan kemungkinan ofensif MILF bila perundingan antara Manila da MNLF gagal. MNLF sendiri bisa kembali keras karena para pejuang mudanya kini banyak menduduki posisi penting di tubuh kelompok ini. Mereka lebih militan dan ingin menjadikan Moro sebagai negara merdeka, terlepas dari Manila. Bagi mreka, status otonomi sama saja artinya dengan penyerahan diri. Sikap ini sama dengan MILF yang mencita-citakan sebuah negara Moro merdeka berdasarkan syariah Islam.

Pertanyaan yang tersisa adalah, apakah perundingan nantinya bisa mendatangkan  perdamaian? Seorang anggota MNLF hanya mampu berkata, “Insya Allah.” Namun kenyataan di lapangan sulit ditebak. Rasa pesimis dan sinis masih tebal di Mindanao.*