15 Oktober 1552, Awal Genosida atas Muslim Tatar oleh Rusia

Oleh MANSYUR ALKATIRI (Peminat Sejarah dan Dunia Islam)

 

30.000 Pejuang Tatar Menghadapi 150.000 Pasukan Tsar Ivan The Terrible

15 Oktober 1552, dinding pertahanan Kota Kazan, pusat kekuasaan Kekhanan Kazan (Kazan Khanate) akhirnya runtuh setelah lebih enam minggu dikepung dan diserang oleh 150.000 pasukan Tsar Rusia, Ivan The Terrible (Ivan yang mengerikan), termasuk puluhan meriamnya. Ini terjadi setelah mereka berhasil menggali terowongan di bawah dinding besar itu dan meledakkan ranjau, yang merobohkan bagian pertahanan, dan meledakkan sistem air kota.

Runtuhnya dinding pertahanan negara Muslim Tatar di kawasan Volga-Bulgar ini, yang dipertahankan 30.000 pejuang bangsa Tatar, segera diikuti oleh derita berkepanjangan muslimin suku Tatar sampai saat ini. Sesuai julukannya, The Terrible (Yang Mengerikan), Tsar muda Rusia ini menjadikan Kazan sebagai neraka.

BACA SELENGKAPNYA “15 Oktober 1552, Awal Genosida atas Muslim Tatar oleh Rusia”

Perang Salib Nikopolis

25 September 1396:
Perang Salib Nikopolis, Saat Turki Usmani Torehkan Aib Besar di Wajah Eropa

Oleh MANSYUR ALKATIRI (Peminat Sejarah dan Dunia Islam)

Dendam dan kebencian kuat bangsa Eropa Kristen terhadap Turki Usmani (Ottoman) berakar pada aib-aib besar yang tertoreh di wajah mereka di banyak medan pertempuran melawan Kekaisaran Turki Usmaniyyah (Turki Ottoman), terutama antara abad ke-14 sampai 17 Masehi. Dendam dan kebencian itu terus dirawat sampai hari ini.

Memori buruk bahwa bangsa Turki Usmani pernah ratusan tahun menaklukan dan menduduki sebagian “tanah Eropa”, terus dipelihara secara kolektif. Tujuannya agar setiap generasi bangsa Krsten Eropa memastikan bahwa bangsa Muslim Turki tidak pernah bangkit lagi kekuatannya. Sebab, -bagi mereka- kebangkitan kekuatan Muslim Turki berarti ancaman bagi Kristen Eropa.

Salah satu aib itu adalah kekalahan mereka di tangan Turki Usmani pada Pertempuran Nikopolis yang terjadi pada 25 September 1396 di Nikopolis, Bulgaria utara. Perang ini juga dikenal dengan nama Perang Salib Nikopolis, perang salib terakhir antara Muslim dan Koalisi Kristen Eropa. Dan, Pasukan Ksatria Salib Eropa menderita kekalahan dahsyat dari Turki Usmani di Nikopolis.

Hari itu, gabungan pasukan Salib yang cukup besar jumlahnya dari Kerajaan Hungaria, Bulgaria, Kroasia, Prancis, Jerman, Wallacea (Rumania), Genoa, Burgundi, Portugal, Aragon dan Castille (Spanyol), dibantu Angkatan Laut Venesia berusaha mengepung kedudukan pasukan Turki Usmani di tepian Sungai Danube, Hungaria. Sultan Bayezid I memimpin langsung pasukan Turki Usmani. Ia dibantu oleh Stefan Lazarević, penguasa Serbia, vassal Usmani, bersama ribuan pasukannya. Serbia tunduk dan menjadi negara vassal Turki Usmani setelah kekalahan mereka di Pertempuran Kosovo di tahun 1389.

SULTAN BAYEZID I. Memimpin langsung pasukan Turki Usmani

Pertempuran ini dipicu oleh seruan Paus Boniface IX untuk mencegah Turki Usmani menguasai lebih banyak kawasan Balkan setelah jatuhnya Serbia dan Bosnia. Sekaligus untuk menyatukan seluruh kekuatan Gereja Katolik yang saat itu terpecah dalam dua kapausan. Selain di Roma, muncul kepausan di Avignon, Prancis, sebagai tandingan di tahun 1378. Kedua kepausan Katolik ini bahkan saling kafir-mengkafirkan.

Seruan Paus Boniface IX itu disambut baik oleh para raja, pangeran dan ksatria dari hampir seluruh Eropa. Puluhan ribu tentara dikerahkan, termasuk pasukan besar dari Prancis, Hongaria, dan Jerman dan dari Ksatria Ordo St. John. Mereka dipimpin oleh Sigismund, Raja Hungaria. Kristen Barat dan Timur Eropa yang biasa terlibat saling sengketa kini bersatu padu menghadapi Turki Usmani.

Namun ternyata pasukan besar itu berhasil dikalahkan sangat telak oleh pasukan Turki Usmani di Nikopolis. Pasukan Salib Eropa itu kocar-kacir. Raja Sigismund dari Hungaria melarikan diri dari pertempuran dengan menggunakan kapal kecil melalui Sungai Danube menuju Venesia.

Kedua pihak menderita korban jiwa cukup besar. Turki usmani kehilangan sekitar 20.000 tentara, dan Pasukan Salib lebih besar lagi. Banyak pangeran Eropa menjadi tawanan perang. Mereka diperbolehkan kembali ke negara masing-masing menggunakan kapal setelah membayar uang tebusan.

Pertempuran Nicopolis juga menjadi akhir dari Kekaisaran Tsar Bulgaria Kedua. Pupus sudah harapan mereka untuk bangkit lagi karena seluruh wilayah Bulgaria akhirnya jatuh ke tangan Turki Usmani setelah kekalahan Tentara Salib itu di Nikopolis. Penguasa terakhirnya, Ivan Sratsimir, ditangkap dan dibunuh di Bursa, sekarang Turki.

Bagi Turki Usmani, kemenangan di Nikopolis telah mencegah munculnya koalisi besar Kristen Eropa menghadapi mereka selama beberapa abad. Kemenangan itu juga mempermudah jalan menuju penaklukkan Konstantinopel dan menguasai Balkan secara penuh, serta menebar ancaman besar bagi Eropa tengah.*

BACA JUGA:
23 September 1821: Yunani Bantai 30.000 Muslim di Tripolitsa
Pertempuran Mohacs, Sultan Suleiman Taklukkan Hungaria
Hagia Sophia dan Kemunafikan Eropa-Kristen

23 September 1821: Yunani Bantai 30.000 Muslim di Tripolitsa

Oleh MANSYUR ALKATIRI  (Peminat Sejarah dan Dunia Islam)

Hari ini, 23 September, di tahun 1821, sebuah tragedi besar kemanusiaan terjadi di kota Tripolitsa, Peloponnese, sekarang masuk Yunani. Milisi dan warga biasa Yunani yang disokong penuh oleh para uskup dan pendeta Gereja Ortodoks Yunani, membantai 30.000 warga Muslim biasa di Tripolitsa. Tripolitsa saat itu dikuasai Usmaniyyah (Ottoman) Turki dengan penduduk Muslim yang besar, yang mayoritasnya keturunan Turki. Banyak juga Muslim asli Yunani dan etnis Albania.

Seluruh Muslim dibantai, laki-laki, wanita dan anak-anak. Tak ada yang tersisa. Banyak Muslim yang disemebelih, dipotong-potong anggota tubuhnya, serta dipanggang dalam api. Anak-anak dikejar dan dibunuh seperti anjing liar. Harta benda mereka dijarah. Rumah-rumah mereka dibakar habis.

Pembantaian di Tripolitsa ini menjadi rangkaian akhir dari pembantaian-pembantaian terhadap Muslim oleh milisi dan warga Kristen Ortodoks Yunani yang menuntut kemerdekaan Yunani, di saat kekuasaan Ottoman Turki melemah. Sebelumnya, di kota Morea dan beberapa kota dan desa lainnya, milisi dan warga Yunani juga menghabisi kaum muslimin.

Sejarawan Inggris, Alison Phillips, menulis di tahun 1897 bahwa seluruh pembantaian itu sudah direncanakan. Sejarawan lainnya, William St. Clair, menyebut jumlah Muslim yang dibantai di Tripolitsa mencapai 20.000 lebih jiwa. Tapi sejarawan lainnya mencatat sekitar 30.000 jiwa. “Laki-laki, wanita dan anak-anak dibantai oleh tetangga-tetangga Yunani mereka dalam beberapa minggu,” tulis Clair dalam bukunya That Greece Might Still Be Free The Philhellenes in the War of Independence (1972). 

Wlliam Clair juga mencatat, “Para uskup dan pendeta mendesak umat mereka untuk memusnahkan apa yang mereka sebut ‘Muslim kafir’”.

Orang-orang keturunan Turki tiba-tiba lenyap dari banyak kota di Yunani, karena pembantaian total selama proses revolusi Yunani. Dunia diam seribu bahasa. Bahkan, para pembantai itu memperoleh senjata dari Rusia, Inggris dan Prancis. Ketiga negara itu sangat bersemangat mendukung lepasnya Yunani dari Turki Usmani, tanpa peduli puluhan ribu Muslim yang menjadi korban pembantaian. Tanpa ada rasa sesal sedikit pun. Sampai sekarang!*

BACA JUGA:
Pertempuran Mohacs, Sultan Suleiman Taklukkan Hungaria
Di Hungaria, Masjid Pasha Qasim Diubah Menjadi Gereja Katolik
Hagia Sophia dan Kemunafikan Eropa-Kristen

Pertempuran Mohacs, Sultan Suleiman Taklukkan Hungaria

29 Agustus 1526, Saat Sultan Sulaiman dari Turki Usmani Taklukkan Hungaria

Oleh: Mansyur Alkatiri

PERTEMPURAN MOHACS, hasil lukisan Johann Schreire dari Jerman.

Hari ini 494 tahun silam (1526 M), sebuah sejarah besar ditorehkan Kesultanan Usmaniyyah (Ottoman) di Eropa Tengah. Pasukan Turki Usmani yang dipimpin langsung oleh Sultan Suleiman I (Suleiman the Magnificent – Suleiman yang Hebat) dan perdana menterinya, Pargali Ibrahim, berhasil menghancurkan Kerajaan Hungaria di kota Mohacs. Menyusul kekalahan itu, Hongaria terpecah dalam beberapa wilayah, tak lagi menjadi negara merdeka, berada di bawah kuasa Habsburg (Austria) dan Utsmaniyah selama beberapa abad.
BACA SELENGKAPNYA “Pertempuran Mohacs, Sultan Suleiman Taklukkan Hungaria”

Di Hungaria, Masjid Pasha Qasim Diubah Menjadi Gereja Katolik

Oleh Mansyur Alkatiri

Masjid Pasha Qasim di kota Pecs, Hungaria, yang diubah menjadi Gereja Katolik setelah Turki Usmani kalah.

Bangunan ini awalnya adalah Masjid Pasha Qasim di kota Pecs, Republik Hungaria. Masjid ini dibangun oleh Pasha Qashim, penguasa Turki Usmani di Pecs, pada 1543 hingga 1546 M, saat Turki Usmani menguasai Hungaria.

Tapi, masjid ini kemudian diubah menjadi “Gereja Candlemas Pusat Kota Perawan Maria yang Diberkati” di tahun 1702, setelah pasukan Kerajaan Austro-Hungaria menguasai kembali kota Pecs dari tangan Turki Usmani. Menara masjid ini dihancurkan oleh pasukan Jesuit pada 1766.

Bangunan ini adalah bangunan bergaya Turki terbesar di Hongaria dan Eropa. Panjang 29 meter, lebar 16 meter, dan tinggi 23 meter. Sehingga  menjadi ikon kota Pecs.

BACA SELENGKAPNYA “Di Hungaria, Masjid Pasha Qasim Diubah Menjadi Gereja Katolik”

Hagia Sophia dan Kemunafikan Eropa-Kristen

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

Setelah menjadi wilayah Muslim selama 370 tahun, kota Toledo (Spanyol sekarang) jatuh ke tangan Kerajaan Castille pada 25 Mei 1085 setelah pengepungan selama satu tahun. Penguasa Muslim lokal, Yahya II al-Qadir, menyerahkan Toledo secara damai pada Raja Alfonso VI dari Castille setelah keduanya mencapai kesepakatan bahwa penguasa Katolik itu akan menjaga keamanan kaum muslimin di sana dan membiarkan masjid-masjid menjadi tempat ibadah kaum muslimin.

Namun kesepakatan itu hanya berjalan dua tahun. Alfonso VI mengingkari janjinya. Dia membiarkan Masjid Agung Toledo, masjid terbesar di kota itu, dirampas oleh kaum Katolik atas perintah Uskup Agung Bernard of Sedirac. Masjid itu pun dijadikan katedral. Dan setahap demi setahap bangunan asli masjid itu diubah menjadi katedral bergaya arsitektur Gothic (Justin E.A. Kroesen, From Mosques to Cathedrals: Converting Sacred Space During the Spanish Reconquest, dalam Mediaevistik, vol. 21, Thn. 2008).

Ketika raja-raja Katolik di wilayah yang sekarang bernama Spanyol dan Portugal mengambil alih kembali wilayah itu dari tangan pemerintahan Muslim asal Afrika Utara dan Arab, mereka membantai, memaksa pindah agama, dan mengusir jutaan Muslim dari Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal sekarang). Mereka juga menghancurkan dan mengubah ribuan masjid menjadi gereja dan tempat lain.
BACA SELENGKAPNYA “Hagia Sophia dan Kemunafikan Eropa-Kristen”

Ketika Masjid Toledo Menjadi Katedral

Ini adalah foto Katedral Toledo, gereja terbesar di kota Toledo, Spanyol bagian tengah. Katedral ini awalnya adalah Masjid Agung Toledo saat Muslim berkuasa di sana selama 370 tahun.

Kota ini jatuh ke tangan kerajaan Castille (Katolik) pada 25 Mei 1085 setelah pengepungan selama satu tahun yang membuat kaum muslimin kelaparan. Penguasa Muslim lokal, Yahya II al-Qadir, akhirnya menyerahkan Toledo secara damai pada Raja Alfonso VI dari Castille setelah sang raja Katolik itu berjanji akan menjaga keamanan kaum muslimin di sana dan membiarkan masjid-masjid menjadi tempat ibadah kaum muslimin.

Namun, kesepakatan itu hanya berjalan dua tahun. Alfonso VI mengingkari janjinya. Dia membiarkan Masjid Agung Toledo, masjid terbesar di kota itu, dirampas oleh kaum Katolik atas perintah Uskup Agung Bernard of Sedirac. Masjid itu pun dijadikan katedral. Setahap demi setahap bangunan asli masjid itu diubah menjadi katedral bergaya arsitektur Gothic.

Ribuan masjid di Spanyol dan Portugal mengalami nasib yang sama, diubah menjadi gereja, termasuk Masjid Agung Cordoba dan Masjid Jami Sevilla yang besarnya saat itu hanya kalah dari Masjidil Haram di Mekkah. Katedral Sevilla malah dianggap sebagai katedral terbesar di dunia saat ini. Sebagian masjid yang dijadikan gereja itu tetap menjadi tempat ibadah Katolik sampai sekarang, dan sebagian sudah berubah menjadi situs-situs musium untuk wisata karena sudah ditinggalkan ibadah oleh umat Katolik yang semakin sekuler dan ateis.

Nasib yang sama dialami juga oleh ribuan masjid milik Muslim Tatar di Krimea dan Volga-Ural dan Muslim Kaukasus di wilayah Rusia sekarang, serta masjid-masjid di Bulgaria, Yunani, Serbia, dan lainnya.

Berbeda dengan kasus Masjid Hagia Sophia atau Aya Sofia yang diprotes keras masyarakat kristen Eropa dan Amerika karena akan difungsikan kembali menjadi masjid oleh pemerintah Turki setelah lama menjadi museum, Katedral Toledo, Cordoba, Sevilla, Lisabon, dan lainnya sepi dari protes. Sebuah pertunjukan kemunafikan yang sangat telanjang.

(Mansyur Alkatiri)

BACA JUGA:
Pembantaian di Fallujah
Ahmad Surkati: Sang Reformis, Sang Pejuang
Faradj Martak Hadiahkan Rumah Proklamasi untuk Bung Karno

Kosovo Bangkit Melawan Serbia

Bersatulah Politisi dan Milisi

Oleh: Mansyur Alkatiri

Sumber: Majalah UMMAT, No. 3 Thn. IV, 27 Juli 1998/2 Rabiul Akhir 1419 H

Khawatir dengan kemajuan KLA, Barat urungkan serangan militer ke Serbia. Kekuatan etnik Albania sendiri masih terpecah

Kosovo KLA: Tentara Pembebasan Kosovo
Kosovo KLA: Tentara Pembebasan Kosovo

Harapan rakyat Albania Kosovo agar Amerika Serikat dan Eropa menyelamatkan mereka dari bahaya pemusnahan massal oleh rezim fasis Yugoslavia, nampaknya susah terwujud. Ada-ada saja alasan yang digunakan oleh dua kekuatan Barat itu untuk menghindari kewajiban kemanusiaan di wilayah yang kini menjadi propinsi Serbia itu. Kini yang menjadi kambing hitam adalah kemajuan yang dicapai gerilyawan Tentara Pembebasan Kosovo (UCK atau KLA).

Keberhasilan milisi bersenjata Kosovo menguasai lebih dari sepertiga wilayah itu dari tangan pasukan Yugoslavia, dijadikan alasan Barat untuk tak menggunakan kekuatan militer terhadap Serbia. “Mereka harus tahu, bahwa pasukan kami takkan datang,” ujar seorang pejabat Departemen Pertahanan pada wartawan Rabu kemarin. Barat katanya, tak ingin serangan itu malah menguntungkan KLA yang mencitakan kemerdekaan penuh negara Kosovo. Barat, -dan Serbia-, hanya setuju status otonomi buat Kosovo.

BACA SELENGKAPNYA “Kosovo Bangkit Melawan Serbia”

Bulgaria, Eksodus Baru Muslim

GELOMBANG BARU EKSODUS ETNIS TURKI

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 45 Thn. III, 1 Juni 1998

Muslim di Bulgaria dilanda kemiskinan berat. Banyak yang lantas eksodus ke Turki

Masjid di Sofia. Harapan Bersama Allah
Masjid di Sofia. Harapan Bersama Allah

Antena parabola menjulang di atap-atap rumah warga keturunan Turki di desa Rogozche, Bulgaria. Barang itu memungkinkan pemiliknya menerima acara-acara televisi dari negeri leluhur mereka: Turki. Tapi barang itu pula yang nampaknya jua membuat banyak rumah di Rogozche, kini sudah tak berpenghuni. Seolah menjadi saksi diam eksodus warga Muslim etnis Turki ke negara Turki.

Perginya orang-orang itu ke Turki, mengingatkan pada eksodus 300.000 etnis Turki Bulgaria ke Turki pada 1989, akibat kampanye keji rezim komunis Todor Zhivkov. Warga keturunan Turki saat itu dipaksa untuk mengikuti budaya Bulgaria, termasuk nama dan adat istiadatnya.
BACA SELENGKAPNYA “Bulgaria, Eksodus Baru Muslim”

Kosovo, Merdeka atau Perang

MERDEKA ATAU PERANG

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 44 Thn. III, 25 Mei 1998

Slobodan Milosevic dan Ibrahim Rugova akhirnya berunding. Namun kecil kemungkinan tercapai kesepakatan

Jenazah Isuf Hadjari terbaring di atas meja, dibawah rimbunnya pepohonan apel di kebun milik almarhum. Selembar bendera nasional Albania, bergambar rajawali hitam berkepala dua diatas dasar kain warna merah, menutup jenazah warga kota Pristina itu. Ditempat itulah ia juga ditembak mati oleh serdadu Serbia, 12 jam sebelumnya (12/5).

Jenazah warga kota Pristina itu, baru saja dimandikan oleh seorang ulama setempat, dibantu teman dan keluarga. Tiga lubang peluru -satu di tulang rusak dan dua di kepalanya-, terlihat jelas saat jenazah dimandikan dan dibungkus kain kafan. Diantar ratusan  pelayat, jenazah Isuf Hadjari dibawa ke sebuah masjid melewati jalan-jalan Pristina, ibukota Kosovo. Usai dishalatkan, Hadjari dikuburkan di pemakaman di puncak bukit, dimana telah menunggu ribuan pelayat lainnya.

IBRAHIM RUGOVA DAN MILOSEVIC BERUNDING. Disambut pesimisme
IBRAHIM RUGOVA DAN MILOSEVIC BERUNDING. Disambut pesimisme

BACA SELENGKAPNYA “Kosovo, Merdeka atau Perang”