Sandiwara Damai PBB di Bosnia

Oleh: Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT Tahun I No. 04, 21 Agustus 1995 / 24 Rabiul Awal 1416 H

Semakin pasti langkah PBB dan Barat menyerahkan Bosnia pada Serbia

KOMANDAN PASUKAN PBB ASAL BELANDA, THOM KARREMANS, DAN PANGLIMA AB SERBIA BOSNIA, RATKO MLADIC. Sepakat Musnahkan Muslim

Ejup Ganic, wakil presiden Bosnia Herzegovina, pernah berucap sinis, enam “wilayah aman” yang dinyatakan PBB di Bosnia, adalah tempat aman bagi Serbia untuk membunuh. Ganic benar. Srebrenica dan Zepa, dua “kota aman” di Bosnia Timur, telah diserahkan pasukan PBB ke tangan agresor Serbia.

Ini kontan membuat Tadeusz Mazowiecki, ketua Tim Penyelidik Hak-hak Asasi Manusia PBB untuk Bekas Yugoslavia, mengundurkan diri. “Para pemimpin dunia bersikap munafik,” tuduhnya.
BACA SELENGKAPNYA “Sandiwara Damai PBB di Bosnia”

Dr. Irfan Ljubijankic Syahid di Bosnia

Dr. Irfan Ljubijankic, menteri luar negeri Bosnia, syahid 28 Mei lalu di Bosnia. Helikopter yang ditumpanginya ditembak jatuh rudal agresor Serbia yang ditembakkan dari wilayah Kroasia yang mereka duduki. Ketika itu ia sedang menuju ke Zagreb, Kroasia, setelah meninjau kota Bihac yang dikepung pasukan Serbia. Bersamanya adalah deputi menteri kehakiman, Muhamedagic, dan lima orang pejabat senior pemerintah Bosnia yang juga menjadi korban.

Ljubijankic dilahirkan di Bihac pada 1952, pernah mengabdi sebagai gubernur di tanah kelahirannya itu. Sebagai dokter, almarhum mengambil spesialisasi ahli bedah.

Pemerintah Republik dan Federasi Bosnia-Herzegovina menyatakan bahwa walaupun telah mengetahui resikonya, mereka tetap berangkat melaksanakan misi penting di wilayah Bihac dan Cazin Krajina itu. Serupa dengan pembunuhan terencana terhadap Wakil PM Bosnia, Hakija Turjalic, dua setengah tahun silam, aksi ini ditujukan untuk melenyapkan kader-kader terpenting pemerintahan Bosnia.

Ljubijankic bergabung dengan Partai Aksi Demokratik (SDA) pimpinan Alija Izetbegovic saat dibentuk enam tahun lalu. Ia diangkat menjadi menteri luar negeri setelah pendahulunya, Haris Silajdzik, naik jabatan menjadi perdana menteri. Dalam waktu singkat ia diakui sebagai seorang diplomat tangguh sekaligus sebagai seorang Muslim yang taat.

Ljubijankic punya kenangan manis di Indonesia. Ketika menemani Presiden Alija Izetbegovic dalam kunjungannya ke Indonesia, ia sempat berdiri sebagai imam di Masjid Istiqlal. Terakhir, ia berkunjung saat peringatan Konprensi Asia-Afrika di Bandung.* (MA)

Dari: Majalah UMMAT Tahun I No. 01, 10 Juli 1995/12 Shafar 1416 H

BACA JUGA:
Tentara Tutsi Bantai Muslim di Burundi
Embargo Membawa Berkah bagi Iran
Strategi Kotor Yahudi di Jerusalem