Mualaf Rusia di Chechnya Nantikan Damai

Majalah UMMAT, No. 18 Thn. II – 3 Maret 1997 / 23 Syawal 1417 H

Mualaf Menanti Damai

Oleh: Mansyur Alkatiri

Seorang mualaf mantan tentara Rusia merindukan keluarga dan perdamaian

Walid adalah contoh generasi muda baru Chechnya. Umurnya masih muda, baru 20 tahun. Tubuhnya tinggi dan kurus, dan perang telah membuat otot-ototnya menjadi keras. Ia sekarang bekerja di sebuah tanah pertanian, sambil menghanyutkan diri dalam mempelajari ajaran Islam, agama yang baru dipeluknya. Ia tekun pula belajar bahasa Arab.

Seperti bangsa Chechen sendiri, Walid telah mengalami perubahan drastis dari masa lalu Soviet-nya. Dan sebuah luka tajam terus tergores di hatinya akibat perang brutal selama 21 bulan yang dikobarkan Rusia untuk memberangus kemerdekaan Chechnya. Dengan hati yang was-was Walid menanti hasil pemilihan presiden dan parlemen 27 Januari lalu.

Melihat penampilannya sekarang ini, memang banyak orang kecele karena menyangka Walid adalah orang Chechen. Padahal ia sebenarnya orang Rusia, tepatnya tentara Rusia yang melakukan desersi ke kubu pejuang Chechen dan masuk Islam.
BACA SELENGKAPNYA “Mualaf Rusia di Chechnya Nantikan Damai”

Pemilu Pertama di Chechnya

Pelajaran Demokrasi Dari Kaukasus

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dimuat di: Majalah UMMAT, No. 15 Thn. II/ 20 Januari 1997

Setelah mengalahkan Rusia, rakyat Chechen siap mengadakan pemilu Januari mendatang.

Setelah sukses mengusir ‘beruang-beruang sakit’ Rusia, Muslim Chechnya kini memasuki kehidupan baru. Dan pemilu yang dijadwalkan berlangsung 27 Januari ini, ditatap dengan rasa optimis sebagai pintu ke masa depan yang lebih baik. Kampanye yang telah dimulai 27 November silam berlangung lancar. Lima pemimpin mujahidin Chechen mencalonkan diri  sebagai presiden Republik Ichkeria –sebutan rakyat Chechen bagi negaranya.

Dua brigade Rusia yang masih tersisa di dekat Grozny, sudah mulai ditarik keluar menyusul dekrit yang dikeluarkan Presiden Boris Yeltsin. Menurut jadwal, 5 Januari ini sudah tak ada lagi prajurit Moskow yang tinggal di Chechnya. Praktis rakyat Chechnya kini menganggap negaranya sudah merdeka, setelah 200 tahun berada di bawah telapak kaki Rusia.

Gejolak memang tak sepenuhnya lenyap. Pembunuhan 6 anggota Palang Merah Internasional (ICRC) dan penyanderaan terhadap 21 serdadu Rusia bisa saja memicu konflik baru. Provokasi dan balas dendam tetap saja mengintai perseteruan baru. Namun gejolak itu tak menghalangi kerjasama yang mulai terjalin kembali di antara kedua pihak, meski kini dalam status Chechnya yang berbeda. Sebuah perjanjian pembagian hasil dari saluran pipa minyak dari Laut Kaspia ke wilayah Rusia, yang melewati Chechnya, sudah hampir disetujui.
BACA SELENGKAPNYA “Pemilu Pertama di Chechnya”

Serangan Brutal Rusia ke Dagestan Bebaskan Sandera

Memburu ‘Serigala’ Menghancurkan Desa

Oleh: Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT, Thn. I No. 16, 5 Februari 1996 / 15 Ramadhan 1416 H

Tak peduli keselamatan sandera, pasukan Rusia menyerang markas ‘Serigala Kesepian’.

Rusia akhirnya melancarkan serangan besar ke desa Pervomaiskoye, yang selama beberapa hari ini menjadi markas darurat pejuang Chechen. Desa yang masuk wilayah Republik Otonomi Muslim Dagestan inipun hancur akibat gelombang serangan helikopter, roket dan mortir, yang dimulai Senin (15/1/1996) kemarin. Rusia kelihatan tak peduli lagi nasib sandera. Yang penting pasukan komando “Serigala Kesepian” Chechen pimpinan Salman Raduyev harus dihabiskan. “Mereka itu para bandit yang harus dimusnahkan,” ujar jubir Pasukan Federal Rusia (FSS), Aleksandr Mikhailov.

Para pejuang yang jumlahnya sekitar 150 orang itu, berada dalam kepungan pasukan Rusia yang berusaha mencegahnya pulang kembali ke Chechnya. Rusia mengkhianati perjanjian yang telah disepakati sebelumnya, yaitu mengijinkan para pejuang pulang ke Chechnya dengan imbalan pembebasan sandera. Pejuang telah membebaskan hampir semua sandera yang jumlahnya sekitar 2.000 orang itu. Hanya 100 orang yang dibawa sebagai jaminan.
BACA SELENGKAPNYA “Serangan Brutal Rusia ke Dagestan Bebaskan Sandera”

Chechnya Peringati Deklarasi Kemerdekaan

Majalah UMMAT Thn. I No. 07, 2 Oktober 1995 / 7 Jumadil Awal 1416 H

ISTANA PRESIDEN DI GROZNY, CHECHNYA. Hancur oleh serangan agresor Rusia

Rakyat Chechnya merayakan ulang tahun keempat deklarasi kemerdekaannya dari Rusia pada Rabu (6/9). Sekitar 6.000 warga Chechnya berkumpul di lapangan istana kepresidenan di Grozny yang telah porak-poranda akibat perang. Mereka meneriakkan yel-yel anti-Rusia sambil mengibarkan bendera berwarna hijau-putih-merah.

Pemerintah Rusia berusaha meredam aksi unjuk rasa itu dengan memberlakukan pengawasan ketat di jalan-jalan kota. Sementara itu, komandan militer Chechnya, Aslan Maskhadov, berusaha menenangkan para demonstran dengan mengatakan bahwa perundingan dengan Rusia telah mengakhiri perang, demikian kantor berita Interfax.

Pemerintah Rusia dan Chechnya setuju diadakan aksi demonstrasi untuk memperingati warga Chechnya yang jadi korban dalam kebijakan deportasi Stalin pada 1944 ke Asia Tengah. Namun warga Chechnya hanya ikut sebentar sebelum bergerak ke lapangan utama. Mereka memperlihatkan foto-foto Dudayev dan Shamil Basayev, komandan gerilyawan Chechnya yang memaksa pihak Rusia berunding, dengan menyandera 1.000 orang di kota Budennovsk Juni lalu.

“Ini hari peringatan kemerdekaan kami. Kami takkan pernah lua akan apa yang telah terjadi di sini. Saya yakin, dalam tempo satu tahun tak satu pun serdadu Rusia pun masih ada di sini,” kata Zelimkhan Zubarayev (43), pekerja pertanian dari kawasan Shali selatan.* Mansyur Alkatiri (Sumber: AFP

BACA JUGA:
KASHMIR: Jerit Jihad di Kaki Himalaya
Tekad Merdeka Muslim Abkhazia
Sandiwara Damai PBB di Bosnia 

Kesepakatan Damai Chechnya-Rusia?

Tarik Ulur Dengan Beruang Merah

Oleh: Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT, No. 5 Thn. I, 4 September 1995 / 8 Rabiul Akhir 1416 H

“Perang telah berakhir”, kata Usman Imayev, ketua tim perunding Chechnya, segera setelah menandatangani persetujuan dengan Rusia akhir Juli lalu. Tapi nyatanya, justeru karir Imayev sendiri yang berakhir. Ia diberhentikan oleh Presiden Republik Muslim Chechnya, Dzokhar Dudayev. Dudayev marah karena Imayev mau meneken kesepakatan dengan Rusia tanpa menyebut soal kedaulatan Chechnya. Dudayev menganggap Usman Imayev, mantan jaksa agung Chechnya, terlalu banyak memberi konsesi pada Rusia dan mengkhianati kepentingan bangsa Chechen.

Banyak orang meragukan persetujuan militer 30 Juli itu bisa  terlaksana baik. Sebab tak menyinggung status masa depan Chechnya. Padahal status negara mini di pegunungan Kaukasus inilah yang memicu serbuan brutal tentara Rusia, Desember tahun lalu. Masalah kedaulatan republik berpenduduk 1,2 juta ini akan dibicarakan kemudian dalam perundingan politik yang terpisah. Chechnya ingin Kremlin akui kemerdekaan mereka.
BACA SELENGKAPNYA “Kesepakatan Damai Chechnya-Rusia?”