Muslim Inggris Boikot Pendidikan Agama di Sekolah

Protes ‘Pendidikan Agama’

Oleh MANSYUR ALKATIRI

Majalah UMMAT Tahun I No. 18, 4 Maret 1996 / 14 Syawal 1416 H

Muslim memboikot “Pendidikan Agama” di sekolah-sekolah

Ratusan orang tua Muslim di wilayah West Yorkshire, Inggris, melarang anak-anak mereka mengikuti pelajaran agama di sekolah. Keputusan tersebut diambil sebagai protes akibat materi pelajaran tersebut tidak seimbang, yaitu memberi porsi terlalu berlebihan pada materi pengajaran agama Kristen.

“Materi pendidikan agama ini lebih banyak berisi pembahasan isi Bibel. Ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah itu tak memperhatikan kepekaan perasaan warga Muslim,” ujar salah seorang orang tua murid.
BACA SELENGKAPNYA “Muslim Inggris Boikot Pendidikan Agama di Sekolah”

Inggris Usir Oposan Arab Saudi

Membangkang Sampai ke Bulan

Oleh: Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT Thn. I No. 16, 5 Februari 1996 / 15 Ramadhan 1416 H

Tokoh hak-hak asasi Arab Saudi di usir dari Inggris. London pilih uang daripada hak-hak asasi.

Semboyan bisnis lebih penting dari hak-hak asasi, rupanya bukan monopoli negara Dunia Ketiga. Inggris juga mempraktekannya. Demi memelihara hubungan bisnis dengan Arab Saudi, pemerintah London memerintahkan deportasi terhadap tokoh oposisi sekaligus pejuang hak-hak asasi Saudi, Dr. Muhammad al-Mas’ari (49) dan Dr. Sa’ad al-Faqih pada 9 Januari lalu. Al-Mas’ari, ahli fisika yang tiba di negeri ini pada April 1994, adalah tokoh utama Committee for the Defence of Legitimate Rights (CDLR) yang berpusat di London.

Mas’ari diberi waktu 10 hari untuk mengajukan banding. Kalau kesempatan ini tak digunakan, ia akan segera dipindahkan ke Republik Dominika, di Karibea. Al-Mas’ari tahun lalu juga sudah akan dikembalikan ke Yaman, darimana ia dulu masuk ke Inggris. Namun rencana ini digagalkan pengadilan yang menganggap itu akan membahayakan jiwa Mas’ari.
BACA SELENGKAPNYA “Inggris Usir Oposan Arab Saudi”

Anti Islam di Kampus Inggris

Oleh: Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT No. 10 Thn. I, 13 November 1995 / 20 Jumadil Akhir 1416 H

Kebencian terhadap Islam merebak pula di kampus-kampus Inggris.

Disini, tak pernah terdengar mahasiswa mendapat perlakuan keji karena ia beragama non-Islam. Tapi lain di Inggris. Hambatan dan penghinaan sering dihadapi mahasiswa dan pelajar Muslim.

Seorang mahasiswi Islam yang mengenakan busana muslimah, telah diserang oleh teman-teman kuliahnya, di Universitas East End, London. Ia diejek dan kemudian secara keji disiram minuman keras. Demikian dilaporkan harian Dawn terbitan Pakistan (4/10). Tak ada sebab khusus yang mendorong para mahasiswa itu mempermalukan gadis muslimah ini. Dugaan paling kuat adalah, merebaknya semangat anti-Islam di kampus-kampus Inggris.

BACA SELENGKAPNYA “Anti Islam di Kampus Inggris”

Jemima Goldsmith, Bendera Islam di Barat

MAJALAH UMMAT NO. 06, Thn. I / 18 September 1995 / 22 Rabiul Akhir 1416 H

JEMIMA DAN IMRAN KHAN. Terus jadi nyinyiran media Barat

IMRAN KHAN, mantan kapten tim kriket Pakistan, mengkritik kepicikan Barat. Barat selama ini memang memandang dengan benci pernikahan Imran dengan Jemima Goldsmith (21), anak seorang industrialis Inggris Sir James Goldsmith. Kepicikan itu agaknya hanya refleksi “ideologi kebencian” Barat dalam memandang Islam. Ideologi yang sengaja dirawat terus oleh Barat.

“Beberapa orang Barat menuduh perkawinan saya dengan Jemima sebagai bagian dari konspirasi Islam terhadap Barat,” ujar Imran Khan dalam sebuah harian berbahasa Urdu, Jang, beberapa waktu lalu. Menurut Imran, pernikahannya dengan Jemima, “Telah menimbulkan perasaan kalah dalam peradaban Barat. Dengan memeluk Islam dan mengucapkan selamat jalan kepada kebudayaan sendiri, Jemima telah menaikkan bendera Islam di Barat,” lanjutnya.

Sementara keluarga Jemima sendiri di Inggris tak ambil pusing dengan omongan orang. “Saya bahagia, karena anak saya bahagia”, tutur Anabel Goldsmith, ibu Jemima. Menurutnya, Jemima memutuskan menikah dengan Imran Khan setelah mempelajari Islam dan kebudayaan Timur secara mendalam. “Saya senang melihat dia menutup kepalanya (berkerudung-red.), sesuai budaya suaminya. Itu tak mengganggu saya,” katanya panjang lebar.

Kebencian Barat kian mengental melihat Imran ternyata mulai aktif di panggung politik. Cap fundamentalis pun diterakan kepadanya. Cap kuno yang juga dirawat terus oleh Barat guna memojokkan figur yang tak disukai. Selain politik, Imran juga aktif di lapangan sosial. Ia mendirikan rumah sakit dan sekolah-sekolah.* (MA)

BACA JUGA:
WAMY, Perkemahan Pemuda Muslim di Hungaria
Sandiwara Damai PBB di Bosnia
Strategi Kotor Yahudi di Jerusalem