George Bush Si Pendusta

Oleh: Mansyur Alkatiri

(Peneliti pada Indonesia Institute of Peace Jakarta)

Dimuat di: Koran Tempo, Jumat, 6 Februari 2004

Mansyur Alkatiri
Mansyur Alkatiri

George Walker Bush mungkin saja akan terpilih sebagai presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya, dalam pemilihan umum November mendatang. Dukungan dana luar biasa dari perusahaan-perusahaan multinasional, terutama yang bergerak di sektor energi, industri militer, dan teknik rekayasa, seakan menjamin ambisi presiden paling pandir dalam sejarah negara adidaya itu untuk tetap tinggal di Gedung Putih. Apalagi, ia diperkuat oleh para intelektual dan kelompok lobi zionis Yahudi garis keras (neo-conservatives) yang cerdas-cerdas, seperti Paul Wolfowitz, Richard Perle, Douglas Feith, dan Lewis Libby.

Sejarah mungkin bakal mengabadikannya sebagai orang paling besar di keluarga besar raja minyak Texas itu, karena Bush Jr. mampu melampaui prestasi ayahnya (Bush Sr) yang hanya mampu sekali saja menjadi presiden AS.

Tapi, sejarah juga akan mengenang, dibalik prestasi gemilangnya itu, Bush Jr. juga seorang “pendusta besar”. Agresi terhadap Irak yang telah memecah opini masyarakat dunia dalam dua kutub besar pro dan anti perang itu, menjadi puncak dari dusta-dusta itu.

George Bush yang didorong penuh oleh Wolfowitz Cabal (Geng Wolfowitz) menyerbu Irak dengan alasan resmi untuk menghancurkan senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction/WMD) Irak, yang menurut Washington masih terus disembunyikan oleh rezim Saddam Hussein. Bush bahkan tidak mau mempercayai hasil kerja tim inspeksi senjata PBB, yang tidak menemukan senjata-senjata itu, kendati telah mengobok-obok ribuan tempat yang dicurigai.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Sudah 10 bulan pasukan AS yang dibantu Inggris menyerbu Irak, membantai ribuan penduduknya dan mendongkel Presiden Saddam Hussein dari kekuasaannya, tapi senjata-senjata itu tak pernah ditemukan juga. Akibatnya, Bush dan salah satu konco-nya, PM Inggris Tony Blair, kini mulai menuai badai kritik dan sumpah-serapah. Tidak hanya dari masyarakat dunia, tapi juga dari warganya sendiri.

“Ini mungkin perang pertama dalam sejarah yang dilancarkan lebih atas dasar ilusi,” kata Susan Wright, pakar perlucutan senjata dari University of Michigan. Ilusi, kebohongan, kepalsuan itu telah dikemas sedemikian rapi sehingga rakyat AS pun tertipu dan mendukung ambisi perang Bush dan gengnya.

Kalau kita tengok ke belakang, sebelum perang digelar, intelijen Amerika sesumbar memiliki daftar 14.000 tempat di Irak yang mereka curigai sebagai tempat disembunyikannya senjata-senjata kimia dan biologi. Setelah AS menduduki Irak, tempat-tempat itu pun disisir oleh dua tim militer AS (Joint Captured Materiel Exploitation Group dan Iraq Survey Group), selama 9 bulan terakhir. Dan hasilnya adalah nol besar.

Dalam pidato kenegaraan di awal Februari tahun lalu, sebulan sebelum melancarkan serangan ke Irak, Presiden Bush bahkan secara spesifik menyebutkan material senjata pemusnah massal yang ia tuduh masih disembunyikan Saddam, yaitu 25 ribu liter antraks, 38 ribu liter botulinum, dan 500 ton gas sarin, mustard, gas saraf. Tapi, ternyata tim inspeksi senjata AS pun tak menemukan timbunan senjata itu.

Maka, tak heran kalau AS akhirnya menarik kembali 400 anggota Joint Captured Materiel Exploitation Group itu pekan silam. Ini adalah tim militer yang tugas utamanya mencari seluruh persenjataan militer rezim Saddam di seluruh bumi Irak.

Kenapa tim itu ditarik pulang? The New York Times yang menyitir beberapa pejabat militer AS menulis penarikan itu merupakan tanda bahwa pemerintah AS sudah kehilangan harapan untuk bisa menemukan persenjataan kimia dan biologi di Irak. Sementara ITU, surat kabar St. Petersburg (Rusia) menyebut penarikan itu kian membuktikan dusta-dusta Bush dalam Perang Irak.

Sebelum ini, tim lainnya, Iraq Survey Group (ISG), yang bertugas melucuti persenjataan biologi dan kimia Irak juga gagal menemukan satu bijipun senjata pemusnah massal itu. Padahal, ISG telah menghabiskan ratusan juta dolar Amerika untuk mencari senjata-senjata yang dituduhkan Bush dimiliki oleh rezim Saddam. Ketua ISG David Kay bersama deputinya juga siap mundur dari posnya itu karena tugasnya “telah selesai”.

Sementara itu, harian Washington Post dalam analisis panjangnya menyimpulkan Irak telah menghancurkan sisa-sisa senjata-senjata kimia dan biologinya pada 1995. Irak pun tidak pernah memiliki senjata nuklir, karena program nuklirnya sudah ditutup di tahun 1991, saat negara itu dikalahkan pasukan koalisi pimpinan Amerika. Analisis panjang harian ini didasarkan pada hasil wawancara dengan beberapa anggota Dewan Pemerintahan Irak (IGC) bentukan Amerika dan sumber-sumber militer Amerika sendiri.

Sebuah lembaga think tank independen, The Carnegie Endowment for International Peace, juga menerbitkan laporan yang sangat tajam tentang bagaimana kalangan intelijen menangani distribusi informasi menyangkut Irak. Laporan itu menuding bahwa sejak pertengahan 2002 pemerintahan Bush telah melancarkan kampanye informasi yang distortif dan melebih-lebihkan kemampuan militer Irak dengan maksud agar publik percaya bahwa negara yang sudah 12 tahun diblokade itu merupakan ancaman bagi keamanan Amerika.

Studi lembaga ini diperkuat oleh pengakuan letnan kolonel Karen Kwiatkowski, pejabat Pentagon yang mundur setelah 20 tahun bertugas di kantornya karena tidak tahan dengan begitu banyaknya kebohongan yang diproduksi Pentagon. Para ekstremis di Pentagon –meminjam istilah George Soros—itu telah menjadikan departemen tersebut sebagai “Pabrik Dusta” (The Lie Factory).

Menurut Kwiatkowski, hanya beberapa minggu setelah Serangan 11 September, pemerintah Bush membentuk unit rahasia Pentagon dan satuan tugas perencana perang yang dinamai Office of Special Plans. Satuan inilah yang rutin memproduksi kebohongan dan memelintir berita untuk disebarkan ke media massa. Media massa mainstream yang memang dikuasai kelompok Yahudi Zionis pun sukses menjadi terompet para pendusta di Pentagon itu.

Melihat data yang ada, susah sekali untuk tidak menyebut bahwa George Bush dan anggota kabinetnya tidak berdusta dalam kasus Irak ini. Dusta-dusta itu semakin terkuak menganga setelah muncul pengakuan dari mantan Menteri Keuangan Philip O’Neill. O’Neill, yang dipecat Bush dari jabatannya akibat perselisihan soal kebijakan ekonomi, mengungkapkan bahwa sedari awal menduduki kursi presiden pada Januari 2001, Bush sangat bernafsu untuk menyerbu Irak dan nekat mencari alasan untuk melancarkan pre-emptive war atas Saddam Hussein.

Terbukanya dusta-dusta itu kian membenarkan tuduhan banyak ahli strategi militer dan masyarakat dunia bahwa tujuan utama agresi Amerika ke Irak sebenarnya untuk menguasai cadangan minyak terbesar kedua di dunia, memasang rezim boneka di Bagdad, dan menempatkan kekuatan militer AS di posisi strategis di pusat Timur Tengah. Meski Washington selalu membantah tuduhan itu, kenyataan di lapangan justru makin memperkuat tuduhan tersebut. Pemerintah penjajahan AS di Irak, misalnya, terbukti hanya memberikan proyek-proyek besar rekonstruksi ladang-ladang minyak Irak pada perusahaan AS saja.

Dusta-dusta itu telah melumatkan negara Irak, menghancurkan hampir sebagian besar infrastrukturnya, membuat rakyatnya melarat dan terus bergelut dengan berbagai penyakit akibat jeleknya sanitasi. Dusta itu telah memakan korban jiwa puluhan ribu warga Irak tak bersalah, yang terus berlanjut sampai hari ini, juga menjadikan Irak jatuh dalam kubangan anarki.

Karena itu, sudah selayaknya George Bush, bersama Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan Geng Zionisnya dibawa ke hadapan mahkamah kejahatan perang. Jika mereka dibiarkan bebas memamerkan kejahatan perang mereka, tatanan hukum dunia ini akan semakin compang-camping. Rakyat Amerika pun harus secara jantan menyerahkan mereka itu ke Mahkamah Internasional, seperti yang dilakukan rakyat dan pemerintah baru Serbia terhadap Slobodan Milosevic.

***

* Penulis adalah peneliti di Indonesia Institute of Peace (INPEACE).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *