Muslim Bulgaria Kembali Merasa terancam

Prasangka Yang Belum Hilang

Oleh Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT Thn. I No. 12, 11 Desember  1995 / 18 Rajab 1416 H

Muslimin Bulgaria mulai menghirup udara kebebasan. Namun prasangka lama masih belum pupus.

Ramiz duduk termenung di serambi Masjid Banya Bashi, di Sofia, ibukota Bulgaria. Kenangan getir sepuluh tahun silam, kembali mengusiknya. Waktu itu ia dipaksa menanggalkan identitasnya sebagai seorang Muslim dan etnis Turki oleh pemerintah komunis Bulgaria.

“Saat itu, Februari 1985, saya masih anggota tentara. Beberapa petugas datang dan memerintahkan saya mengganti nama. Mereka memberi daftar nama Bulgaria dan menyuruhku mengambil salah satu nama itu. Saya menolak, dan mereka menghajar saya”, cerita Ramiz sehabis shalat Jum’at.

Keharusan mengubah nama adalah salah satu upaya pemerintah komunis untuk melenyapkan tradisi dan keimanan umat Islam. Dalam kampanye ‘anti-Turki’ yang dimulai 1984 itu, pemerintah juga melarang penggunaan bahasa Turki di sekolah-sekolah dan di depan umum. Ada 1119 sekolah muslim yang ditutup, 1.500 masjid dihancurkan dan dialihfungsikan. Al-Qur’an dilarang dicetak dan diedarkan. Akad nikah secara Islam dan beribadh haji juga tak diijinkan. Tak tahan menghadapi kekejaman itu, sekitar 300.000 muslimin lari mengungsi ke Turki. Sebelumnya, antara 1968-1978, lebih dari 115 ribu muslimin juga di usir ke Turki.

MASJID BANYA BASHI DI SOFIA, BULGARIA. Bayang-bayang Bosnia

Tapi kini, keadaan sudah lumayan berubah. Pemerintah baru non-komunis yang berkuasa setelah tumbangnya rezim komunis di tahun 1989, mengembalikan lagi hak-hak umat Islam untuk beribadah dan menggunakan nama-nama khas mereka. Keputusan ini pada awalnya ditentang keras kalangan Gereja Ortodoks.   

Kebencian historis

Jumlah kaum muslimin diperkirakan sekitar 25 persen dari 9 juta penduduk Bulgaria. Mayoritasnya adalah etnis Turki. Ada pula muslim suku bangsa Pomak, Macedonia dan Albania. Islam masuk ke negeri Balkan ini pada abad ke-14, dibawa oleh Khilafah Turki Usmani, yang waktu itu menguasai jazirah Balkan selama lima abad. Baru pada 1878, kekuasaan Usmaniyah kalah dan meninggalkan Bulgaria. Sejarah panjang kekuasaan Khilafah Usmaniyah ini meninggalkan “trauma” di kalangan Kristen Ortodoks Bulgaria.

Trauma tersebut barangkali sudah berkurang sekarang. Tapi di sementara kalangan, terutama penganut fanatik Ortodoks, masih saja membekas. Todor, misalnya. Ia guru di kota Plovdiv, yang berdekatan dengan wilayah komunitas muslim Turki di selatan. “Bulgaria adalah negara Kristen. Saya ingin mereka (baca: Muslim) pulang kembali ke Turki, negeri asal mereka”, katanya pada Christian Science Monitor. Todor menuduh orang-orang muslim itu fanatik dan teroris, persis seperti tuduhan orang Barat pada umumnya.

Sikap Todor barangkali tak mewakili pandangan umum di Bulgaria. Tapi keberhasilan Partai Sosialis Bulgaria (BSP) meraih kekuasaan dalam pemilu Desember tahun lalu, dengan menggusur pemerintahan non-komunis, amat mengkhawatirkan kaum muslimin. BSP adalah pewaris Partai Komunis yang dulu melancarkan kampanye anti-Islam dan Turki.

BSP juga berhasil menang mutlak dalam pemilu lokal yang berakhir 12 November kemarin. Mereka mampu meraih kemenangan di lebih 100 kota, suatu kemenangan mutlak atas kubu Union of Democratic Forces (UDF) yang anti-komunis. Tapi UDF mampu menundukkan BSP di tiga kota terbesar, yaitu ibukota Sofia, Plovdiv dan Varna. Sementara Movement for Rights and Freedom (MFR), yang mewakili kepentingan politik etnis Turki dan umat Islam, berhasil unggul di 10 kota selatan.

Ahmet Dogan, ketua MFR, amat khawatir dengan upaya pemerintah BSP untuk mengurangi pengaruh politik etnis Turki, seperti perubahan distrik pemilihan yang dihuni mayoritas etnis Turki. Begitu pula dengan kehadiran Ilcho Dimitrov, menteri pendidikan dan sains dalam pemerintahan sekarang. Dimitrov ini arsitek kampanye anti-Turki pada 1980-an. “Selama tujuh bulan terakhir tak ada satupun usaha untuk mengajak kami dalam dialog,” ujar Dogan.   

Tapi kekhawatiran terbesar adalah ancaman mengimbasnya perang di bekas Yugoslavia ke Bulgaria. Seperti halnya di Bosnia, masyarakat Bulgaria terpilah antara penganut Kristen Ortodoks dan Islam. “Perang di bekas Yugoslavia telah mempertinggi kesadaran agama dalam masyarakat Turki dan Bulgaria”, ujar Dogan. Bila keadaan ekonomi negeri memburuk, BSP bisa tergoda untuk memainkan sentimen etnis, guna mengalihkan perhatian masyarakat.*

BACA JUGA:
MUSLIM ALBANIA, Cemas di Tengah Perubahan
Kosovo, Target Serbia Berikutnya
Pemurtadan Gaya Amerika

4 thoughts on “Muslim Bulgaria Kembali Merasa terancam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *