Pembantaian di Fallujah

Teror Junta Teroris

Oleh: MANSYUR ALKATIRIPenulis adalah peneliti di Indonesia Institute of Peace and Justice (INPEACE).

Dimuat di: Koran Tempo, Kamis, 16 Desember 2004

“Rumah tetangga kami diserbu. Mereka membunuh seluruh delapan anggota keluarga itu: Ibu Hazima Mohsen, dua anak lelakinya, dua anak perempuannya, seorang menantu perempuan, dan dua orang cucunya yang masih kanak-kanak. Pasukan Amerika membantai atas nama Al-Zarqawi. Salah satu wanita yang mati itu bahkan sedang hamil tujuh bulan. Si janin lantas keluar dari tubuhnya, dan masih hidup sampai enam jam sebelum kemudian mati” (Umm Waddah, warga Fallujah).

Umm Waddah lari dari Fallujah Ke Bagdad sehari setelah sebuah peluru kendali yang dilepaskan pesawat Amerika menghantam rumah tetangganya, Ghanems, di tengah malam, dan membuat sebagian tubuh keluarga itu berserakan sampai ke atap rumahnya.

Tak ada pria bersenjata di rumah itu, apalagi teroris. Tapi, bagi Amerika, seluruh warga Fallujah adalah teroris, tak peduli mereka itu bayi, ibu-ibu, lelaki jompo yang tak mampu lagi berjalan, bahkan janin yang masih ada di perut ibunya.

Abu Mussab al-Zarqawi adalah warga Yordania yang dituding oleh Amerika sebagai kaki tangan Al-Qaidah, dan mengepalai kelompok ‘teroris Muslim’ di Irak (al-Tawhid wal-Jihad). Washington menuding Al-Zarqawi dan para pengikutnya dari berbagai negara Arab telah bersembunyi di Fallujah.


Namun, klaim keberadaan Al-Zarqawi itu dibantah keras oleh warga setempat. Mereka tak pernah mendengar nama Al-Zarqawi kecuali dari Amerika. Maka warga Fallujah yakin Al-Zarqawi cuma hantu yang diciptakan Amerika untuk menyembunyikan alasan sebenarnya menyerbu dan menduduki Fallujah.

Kesan hantu itu memang kuat sekali, apalagi informasi Washington tentang sosok fisik dan gerakan Al-Zarqawi kerap berubah-ubah. Awalnya dikatakan Al Zarqawi buntung sebelah kakinya, tapi di film yang dipertontonkan militer AS ternyata tidak buntung.

Mona, salah satu anak perempuan Hazima, beruntung bisa lari ke Bagdad beberapa hari sebelum pasukan AS menyerbu Fallujah, 8 November silam, sebelum keluarganya dibantai atas nama Al-Zarqawi. Baginya, klaim Amerika bahwa Al-Zarqawi ada di Fallujah sama dengan klaim bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. “Mereka menyerbu Irak dengan klaim dusta senjata pemusnah massal, dan kini dengan dusta Al-Zarqawi mereka menyapu habis Fallujah,” katanya, seperti dikutip situs Islam-online.net.

Cerita Umm Waddah yang beruntung selamat setelah melarikan diri ke Bagdad, sangat menyesakkan. Dan itu mestinya semakin membuka mata dunia untuk melawan perilaku khas Nazi yang dipertontonkan bala tentara Amerika di Fallujah dan kota-kota lain di Irak. Cerita ini tentu saja hanya secuil episode dari sebuah film panjang kebrutalan Amerika di Fallujah.

Kebiadaban pasukan Amerika dalam serangan di Fallujah bulan lalu itu kini mulai terungkap satu persatu setelah selama berminggu-minggu militer AS menutup rapat akses informasi di sana. Hanya ada sedikit wartawan dan kameraman yang diperbolehkan meliput dengan menempel pada pasukan AS (embedded-reporters), tapi mereka pun hanya boleh menginformasikan berita yang telah disensor habis militer AS.

Namun, sempat juga potongan gambar para wartawan itu lolos dari sensor, seperti adegan tentara AS menembak mati 4 lelaki Irak tak bersenjata yang sedang terkulai lemas di sebuah masjid akibat luka-luka tembak. Sebuah tindak kejahatan perang yang mungkin bakal dimaafkan dunia karena pelakunya adalah tentara Amerika. Itu baru yang terekam kamera. Bagaimana di tempat lain yang jauh dari kamera wartawan?

Puluhan ribu warga sipil dan pejuang Fallujah diduga telah tewas karena pasukan Amerika melarang sekitar 100.000 lelaki berusia 16-60 tahun keluar dari kota itu untuk mengungsi. Kemudian hampir seluruh kota diratakan dengan tanah oleh pemboman dari udara dan darat, dengan sekitar 150 ribu atau separuh populasi Fallujah terkurung di dalamnya. Lebih dari separuh masjid di kota itu juga hancur dan sebagian dijadikan markas tentara Amerika. Sebuah penistaan kesuciaan tempat ibadah yang susah dimaafkan.

Jangan bicara Konvensi Jenewa di Fallujah. Rumah sakit umum Fallujah dan beberapa rumah sakit kecil yang menjadi target serangan bahkan hancur. Paling sedikit 17 dokter dan tenaga paramedis dieksekusi secara dingin, sementara puluhan lainnya mati terkubur dalam puing reruntuhan beberapa rumah sakit kecil. Mobil ambulans di hajar rudal. Rumah sakit dilarang menerima atau menolong pasien yang terluka. Dokter yang beruntung bisa selamat ditahan dengan tangan diikat dan diperintahkan tiarap bak kucing kurap.

Militer AS menyebut rumah sakit dan dokter itu sebagai ‘propagandis setan’ karena dalam operasi sebelumnya April silam, rumah sakit menjadi satu-satunya sumber informasi yang bisa dipercaya wartawan tentang jumlah korban sipil warga Irak di Fallujah.

Dengan tidak berfungsinya rumah sakit, tak ada lagi yang tahu berapa jumlah korban sipil sebenarnya dalam “Operasi Setan Ngamuk” Amerika kali ini. Para dokter dan tenaga paramedis yang selamat dari eksekusi para penembak jitu Setan Sam ditahan hingga tak ada yang bisa memberi pertolongan. Mereka yang terluka akhirnya dibiarkan begitu saja di jalan-jalan, di masjid-masjid, dan di rumah-rumah mereka sampai ajal menjemput karena kehabisan darah.

Sementara itu, jalan-jalan penuh mayat bergelimpangan, laki-laki, wanita, dan anak-anak. Sebagian mayat itu menjadi santapan anjing liar tanpa ada yang berani mengambilnya, dan sebagian lainnya dilindas tank Amerika yang melewati jalan-jalan Fallujah. Ratusan penembak jitu Amerika siaga penuh, membidik setiap orang yang tampak di jalanan, meski mereka berada di situ untuk menolong yang luka atau sekedar mengangkat mayat.

Konvensi Jenewa secara eksplisit menyebutkan, dalam situasi perang, rumah sakit dan ambulans tidak boleh diserang. Tapi mana bisa Amerika peduli dengan Konvensi Jenewa? Bukankah mereka biasa melanggar semua hukum dan aturan internasional? Bukankah invasi ke Irak juga dilakukan dengan melanggar tatanan hukum dan etika hubungan internasional?

Operasi sadis di Fallujah juga seolah menandai terpilihnya kembali George Walker Bush sebagai presiden Amerika. Sebuah dunia yang lebih gelap kini menanti. Mandat besar rakyat Amerika jelas makin memperkuat tekad Bush untuk mengubah tatanan dunia menjadi lebih bertekuk lutut pada agenda kaum kanan ekstrem Amerika yang ditopang oleh kekuatan Kristen dan Yahudi ekstrem.

George Bush dengan dorongan sebagian besar rakyat Amerika yang telah memilihnya bakal kian mantap mengemudikan pemerintahan negara besar itu dengan gaya sebuah ‘Junta Teroris’. Teror dahsyat di Fallujah, dan kota Irak lainnya, dan sebelumnya di Afganistan, bisa jadi hanya tahap awal dari sebaran teror yang lebih merata di seluruh penjuru dunia.

Pertanda itu sudah muncul dengan dipilihnya Condoleezza Rice sebagai menteri luar negeri dan dipertahankannya Donald Rumsfeld sebagai menteri pertahanan. Juga dengan dipilihnya Stephen Hadley, penganjur kuat invasi ke Irak sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional, dan Porter Goss sebagai kepala Badan Intelijen AS (CIA). Keempat figur hawkish ini, plus Wakil Presiden Dick Cheney, sudah menjadi jaminan bahwa doktrin ‘America Uber Alles’ akan menjadi hukum internasional yang baru. 

Kemarin Afganistan, hari-hari ini Fallujah dan seluruh Irak, dan mungkin besok Iran, Suriah, Yaman, Arab Saudi, Pakistan, dan lainnya. Indonesia juga menunggu giliran, kecuali kita mau menjadi ‘babu’ Bush.*

BACA JUGA:
Bom Al-Qaida di Karbala
George Bush Si Pendusta
Pembunuhan PM Israel Yitzhak Rabin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *