Pesta Yahudi di Atas Derita Palestina

PESTA YAHUDI DI ATAS DERITA PALESTINA

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dari: Majalah UMMAT, No. 44 Thn. III, 25 Mei 1998

Palestina memperingati 50 tahun Nakbah, ditengah pesta Yahudi merayakan 50 tahun negara Israel.

Palestinian refugees fleeing Galilee in the fall of 1948
WARGA PALESTINA TERUSIR DARI GALILEE (1948). Nestapa kemanusiaan yang tak kunjung usai

 

Ketika bangsa Yahudi berpesta menyambut 50 tahun berdirinya negara Yahudi Israel, bangsa Palestina menangis, teringat kembali kenangan pahit tahun 1948. Saat itu, sekitar 800 ribu orang Palestina –waktu itu separuh populasi warga Palestina– diusir atau lari, dirampas hak miliknya, diduduki rumah dan tanahnya.

Mereka namakan itu Nakbah atau Malapetaka. Dan hantu itu kini muncul begitu pekat ketika kaum penjarah Zionis itu berpesta merayakan 50 tahun berdirinya Negara Israel, 15 Mei lalu. Tak heran kalau kaum muda Palestina menanggapi perayaan kaum Zionis itu dengan demonstrasi penuh kekerasan hari-hari ini.

Salah satu korban yang terusir itu adalah Ali dan Abdullah Abbas, kakak adik warga desa Nahaf, Galilee. Ali 24 tahun, sedang Abdullah tujuh tahun lebih muda, ketika bencana itu terjadi. Mereka lari ke kamp pengungsi Libanon selatan. Namun mereka kemudian terpisah. Ali balik ke Nahaf, dan menjadi warganegara Israel. Abdullah tetap di Libanon, tak berkewarganegaraan. “Saya kehilangan keluarga. Saya kehilangan negara,” ujarnya pada Newsweek.

Setelah perang Arab-Israel I pada 1948, yang disebabkan pembantaian oleh milisi Yahudi atas penduduk Arab Palestina di Deir Yassin dan desa-desa lainnya, kedua pihak melakukan gencatan senjata. Israel membolehkan beberapa pengungsi Palestina pulang kembali bergabung dengan keluarga mereka. Tapi mayoritas tak boleh kembali. Ali pulang ke Nahaf, untuk mencari orang tua mereka.

Tapi Galilee yang Ali temui berbeda dengan Galilee yang ia tinggalkan. Pemerintah Israel sudah mengisi kota itu dengan imigran Yahudi dari Eropa dan beberapa negara Arab. Ali pun bekerja sebagai buruh, mencari uang dengan membangun jalan-jalan bagi tetangga-tetangga baru Yahudi, yang merampas kampungnya. Ia menyerah saja pada nasib, harus menjadi orang Israel, dengan beban hidup berat, harus menghidupi 8 anaknya.

Abdullah menghabiskan 10 tahun pertamanya di Libanon dan Suriah, sebagai buruh. Ia lalu menikah dan menetap di kamp pengungsi Shatila, Libanon. Ia hidup tenang dengan membuka toko, sampai meletus perang saudara 1975.

Pada 16 September 1982, kamp itu diserang milisi Kristen Libanon yang bersekutu dengan Israel. Ratusan pengungsi Palestina dibantai milisi itu di kap Sabra dan Shatila. Abdullah sekeluarga beruntung selamat. Namun banyak saudara dan tetangganya tewas.

Tiga tahun kemudian, Shatila diserbu dan diblokade oleh milisi Amal Syiah pimpinan Nabih Berri. Kamp itu hancur dan ratusan penghuninya mati kelaparan. Tapi Abdullah sekeluarga kembali selamat. Dan harapan hidup lebih baik terbentang dihadapannya setelah ketiga anak lelakinya, mendapat kewarganegaraan Jerman. Mereka membuka restoran disana. “Itu satu-satunya harapan yang masih kami miliki,” tuturnya.

Propaganda Yahudi

Abdullah dan Ali Abbas tidaklah sendirian. Saat ini tak kurang 5 juta orang Palestina harus hidup di pengasingan. Bahkan 1,2 juta diantaranya masih menghuni kamp-kamp pengungsi di Libanon dan Jordania, yang didirikan setengah abad lalu oleh PBB. Tapi sayangnya, penderitaan mereka selama 50 tahun ini tak menyentuh dunia, yang lebih mempercayai cerita propagandis Yahudi.

Selama puluhan tahun, propagandis itu menyatakan bahwa warga Palestina melarikan diri, bukannya diusir. Tapi jikapun benar begitu, kenapa mereka dilarang kembali? Menurut Rami G. Khouri, pengamat Timur Tengah yang tinggal di AS, orang-orang itu memang diusir dengan sistematis oleh pemimpin Yahudi Israel. Sebab jumlah warga Palestina yang besar akan mempersulit pembentukan dan berfungsinya sebuah Negara Yahudi. Maka diperlukan pola “pembersihan etnis.”

PM Yitzhak Rabin yang terbunuh 1995, pernah mengakui kenyataan itu. “50.000 penduduk Palestina di Lod (sekarang Lydda), tak pergi sukarela. Kami gunakan senjata api dan tembakan peringatan agar penduduk lari,” tulis Rabin dalam memoirnya 20 tahun silam. Namun komite kabinet, melarang dipublikasikannya memoir itu di Israel, karena bisa meruntuhkan klaim bahwa Israel telah bertindak manusiawi. Rabin menyerah, tapi penerjemah bahasa Inggrisnya punya kopi aslinya dan meloloskannya ke New York Times. Tapi untung generasi baru sejarawan Israel kini mulai lebih terbuka bicara tentang pengusiran warga Palestina.

Pengakuan jujur juga dikemukakan oleh Meir Pail, mantan anggota Haganah, salah satu milisi teroris Yahudi. Ia turut menyerang desa Deir Yassin, Jerusalem, bersama dua milisi lainnya, Irgun dan Stern Geng, pada 9 April 1948. “Anggota Stern dan Irgun masuk dari rumah ke rumah untuk menembak, menjagal, membunuh dan merampok…,” katanya. Meir Pail mundur dari dinas militer memprotes atas program nuklir Israel pada 1960-an.

Jadi, sampai kapan dunia masih percaya pada kebohongan Zionis?

(Mansyur Alkatiri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *