Provokasi Baru Zionis

PROVOKASI BARU ZIONIS

Oleh: Mansyur Alkatiri

Majalah UMMAT, No. 38 Thn. III / 13 April 1998

Pemimpin sayap militer HAMAS dibunuh. Upaya pemerintah Netanyahu memprovokasi Palestina?

PEMAKAMAN MOHIEDDIN SHARIF. Upaya Israel Memprovokasi Palestina
PEMAKAMAN MOHIEDDIN SHARIF. Upaya Israel Memprovokasi Palestina

 

Tanah Palestina kembali mendidih, menyusul terbunuhnya pejuang HAMAS, Mohieddin Sharif. Ia diketemukan tak bernyawa disamping mobil yang hancur berantakan akibat akibat bom di kota Ramallah, Tepi Barat, Minggu lalu. Tapi rakyat Palestina baru tahu itu mayat Mohieddin, setelah ada pengumuman dari polisi Palestina, Rabu lalu.

Menurut hasil otopsi, Mohieddin tewas akibat ditembak tiga kali, tiga jam sebelum mobil meledak. Si pembunuh lantas meletakkan mayat tokoh gerakan Izzeddin al-Qassam ini di dekat sebuah mobil berplat nomor Israel, yang kemudian diledakkan dengan remote control.

Berita itu langsung memancing amarah warga Palestina, yang kian frustasi melihat kecongkakan pemerintah Zionis pimpinan PM Benyamin Netanyahu mengingkari perjanjian damai Oslo. Anak-anak muda di Bethlehem yang menuntut balas kematian pujaannya, melempari tentara Israel dengan batu, yang dibalas gas air mata dan peluru karet.

Kerusuhan makin besar saat pemakaman Mohieddin, Kamis (2/4). Hanya dengan bersenjatakan batu, anak-anak muda itu menghadapi tentara teroris Yahudi. Enam pemuda tertembak. Beberapa serdadu Yahudi juga terluka. Tentara menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Diperkirakan hari-hari ini kerusuhan akan meluas dan bertambah dahsyat.

Ribuan massa Palestina mengantar jenazah Mohieddin yang dibungkus bendera Palestina berwarna merah, putih, hijau dan hitam. Pengiring membawa bendera hijau HAMAS dan kain hitam tanda berkabung. Sepanjang perjalanan dari Ramallah ke al-Bireh, mereka meneriakkan balas dendam. “Kami tahu cara membalas dendam bagi pemimpin dan pahlawan kami. Barisan ini takkan berhenti sampai Jerusalem dibebaskan,” pekik mereka.

Teka-teki Pembunuh

Mohieddin Sharif
Mohieddin Sharif

Seluruh Palestina yakin, pembunuhan atas ahli perakit bom itu adalah ulah Israel. “Israel tak terlibat dalam insiden itu,” bantah PM Benyamin Netanyahu. Mantan kepala dinas intelijen Shin Beth, Yaacov Perry, bahkan¬† berspekulasi, pihak Otoritas Palestinalah –yang didesak Israel dan AS untuk menghancurkan Hamas– yang mungkin membunuh Mohieddin.

Abdel Aziz Rantisi, pemimpin Hamas di jalur Gaza, tak bisa menerima ‘cuci tangan’ Netanyahu. “Saya tak ragu satu menitpun bahwa tangan-tangan zionis berada di balik pembunuhan itu,” katanya seperti dikutip CNN. “Pembunuhan terhadap Mohieddin juga membuktikan kalau Israel tak menginginkan perdamaian.”

Izzeddin al-Qassam, sayap militer Hamas, juga menuduh Israel sebagai pelakunya. Dalam banyak selebaran, kelompok ini mengancam akan menyerang sasaran Yahudi di seluruh dunia sebagai balasan. “Zionis pasti menyaksikan reaksi yang dahsyat dan penuh kekerasan,” bunyi selebaran itu. Mereka juga menyatakan Otoritas Palestina turut bertanggung-jawab, karena kejahatan itu berlangsung di wilayah kekuasaan Otoritas.

Di sisi lain, kematian Mohieddin disambut gembira oleh warga Yahudi Israel. “Saya tak tahu harus mengucapkan selamat dalam bahasa Ibrani atau Arab. Siapapun yang membunuhnya, ia berhak mendapat pujian dan terima kasih dari seluruh warga Yahudi,” ujar Ephraim Sneh, tokoh Partai Buruh, seperti dikutip The Times (2/4).

Bagi Yahudi Israel, Mohieddin Sharif (32) adalah hantu menakutkan. Mereka yakin, pemuda kelahiran Beit Hanina (Jerusalem Timur) ini adalah otak kampanye serangan bom terhadap sasaran Yahudi. Ia mengisi tempat yang ditinggalkan Yahya “Sang Insinyur” Ayash, yang diledakkan intelijen Israel di Gaza Januari 1996 melalui bom telepon mobil. Buron nomor satu pihak keamanan Israel ini pernah lolos dari pembunuhan pada 1995. Dua pentolan Izzeddin al-Qassam lainnya, Adel Awadallah dan Mohammad Diaf, kini juga dicari-cari Israel.

Mengingat status Mohieddin sebagai buron terbesar, Israel sulit mengelak dari tuduhan. Apalagi dalam situasi sekarang, dimana wajah PM Netanyahu dan Israel tampak buruk di mata dunia karena terus menolak menerapkan perjanjian perdamaian Oslo. Bisa jadi pembunuhan atas Mohieddin merupakan provokasi agar Izzeddin al-Qassam, sayap militer HAMAS, melancarkan serangan kembali.

Bila itu terjadi, Israel bakal dipastikan mendapat ‘simpati’ AS dan Eropa kembali. Dan ‘dosa-dosa’ nya yang menolak menerapkan perjanjian damai, bakal dilupakan. Netanyahu selalu beralasan, Yasser Arafat tak sungguh-sungguh melibas HAMAS, padahal HAMAS ancaman utama keselamatan Israel. Maka Israel, katanya, tak mau melaksanakan perjanjian sebelum HAMAS lenyap. Ini mirip dengan saat Yahya Ayash dibunuh, di masa PM Shimon Peres. Sebuah tipuan usang yang anehnya diamini saja oleh Barat.

“Mohieddin sudah pergi, tapi puluhan Mohieddin lainnya akan muncul. Yahya Ayash telah pergi, tapi ribuan lainnya menggantikannya. Jihad akan terus berlanjut,” tegas Ibrahim Sharif (34), kakak Mohieddin.

Mansyur Alkatiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *