Setelah Road Map Arab-Israel Disodorkan

Oleh: Mansyur Alkatiri *

(Penulis adalah peneliti pada Indonesia Institute of Peace and Justice, INPEACE)

Dimuat di: Koran Tempo, Sabtu, 10 Mei 2003

Dokumen Peta Jalan (Road Map) bagi perdamaian Arab-Israel yang diserahkan pejabat AS dan Uni Eropa ke pemimpin Israel dan Palestina pekan silam memang menjanjikan penyelesaian menyeluruh bagi konflik lama ini. Namun, harapan cerah itu bukan mustahil kembali akan musnah, seperti nasib Kesepakatan Oslo yang ditandatangani PM Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat pada 1993 di Washington.

Substansi dua kesepakatan itu memang tidak banyak berbeda, yaitu menjanjikan sebuah negara Palestina merdeka di Tepi Barat dan Jalur Gaza, berdampingan dengan negara Yahudi Israel. Sedangkan status kota suci Jerusalem Timur yang diklaim kedua pihak sebagai calon ibukota abadi mereka, harus ditentukan melalui perundingan.

Kesepakatan Oslo berantakan setelah Yitzhak Rabin dan Shimon Peres mengulur-ulur implementasinya. Sementara itu, pemerintah Partai Likud yang berkuasa kemudian tak lagi peduli dengannya, bahkan berantakan sama sekali setelah Ariel Sharon menjadi Perdana Menteri sejak dua tahun lalu.
BACA SELENGKAPNYA “Setelah Road Map Arab-Israel Disodorkan”

Israel Connection di Balik Skandal Clinton-Lewinsky (Bagian 1)

Mansyur Alkatiri

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

Peneliti pada Indonesia Society for Middle East Studies (ISMES)

Dimuat di: Harian REPUBLIKA, Senin 16 Februari 1998, Halaman 10.

Kamis, 22 Januari 1998, Presiden Palestina Yasser Arafat mendapat kesempatan berharga untuk mempengaruhi opini publik Amerika Serikat. Arafat akan membuat ajakan langsung pada rakyat AS agar mau campur tangan menyelamatkan proses perdamaian Timur Tengah. Ajakan itu akan disampaikan lewat media massa Amerika, dalam sebuah konferensi pers langka di Gedung Putih bersama Presiden Bill Clinton.

Pesan Arafat sangat penting mengingat dua hari sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu di tempat yang sama menolak memenuhi komitmen penarikan mundur dari wilayah Palestina, yang sebelumnya telah ditandatangani pemerintah Partai Buruh pimpinan Yitzhak Rabin pada September 1993 dan 1995. Ini kesempatan berharga bagi Arafat untuk membongkar dan menunjukkan betapa Netanyahu seorang keras. Arafat pun berkesempatan mengimbau seluruh rakyat Amerika –khususnya Presiden Bill Clinton- agar berperan sebagai “penengah yang jujur” dalam proses perdamaian yang telah lama tertunda itu.

Seperti lazimnya sebuah konferensi pers penting di Gedung Putih, pesan itu semestinya menghiasi halaman muka koran-koran besar Amerika. Dan Palestina bakal mengambil keuntungan besar darinya. Di lain pihak kerugian besar bagi citra pemerintah Israel.

BACA SELENGKAPNYA “Israel Connection di Balik Skandal Clinton-Lewinsky (Bagian 1)”

Israel Siksa Tahanan Palestina

MENYOAL HAK ISRAEL MENYIKSA TAHANAN

Oleh: Mansyur Alkatiri

Dimuat di: Majalah UMMAT, No. 45 Thn. III, 1 Juni 1998 / 5 Safar 1419 H

Penggunaan cara-cara kekerasan terhadap tahanan Palestina, ditentang keras lembaga-lembaga HAM

METODE PENYIKSAAN ISRAEL DI PENJARA. Cara-cara hina rezim kejam
METODE PENYIKSAAN ISRAEL DI PENJARA. Cara-cara hina rezim kejam

Selama diinterogasi agen rahasia Israel di tahun 1996, setiap harinya kepala Abed Ahmar, seorang aktifis Palestina, ditutupi kerudung yang dibasahi air seni dan kotoran. Kadang-kadang, ia digoncang-goncangkan cukup keras atau diikat dalam posisi menyakitkan.

Setelah dua bulan interogasi, agen-agen Shin Bet itu datang dengan tangan kosong. Tak lagi menyiksa. Mereka pun membebaskan Abed Ahmar, anggota sebuah faksi PLO yang menentang perjanjian damai dengan Israel, begitu saja. Ahmar tak dikenakan tuduhan apapun. Dengan kata lain, ia tak bersalah.

Kasus yang menimpa Abed Ahmar dan ribuan warga Palestina lainnya yang pernah menjalani penyiksaan serupa, kini untuk pertama kalinya ditanggapi oleh Mahkamah Agung Israel. MA memutuskan membuka dengar pendapat kasus itu mulai Rabu (20/5) kemarin, untuk menguji pendirian Shin Bet bahwa mereka perlu menggunakan metode kekerasan terhadap tahanan Palestina, guna mengorek informasi dari kaum militan, dan mencegah serangan teror terhadap Israel.
BACA SELENGKAPNYA “Israel Siksa Tahanan Palestina”