Yeltsin Menabur Dusta Menuai Malu di Chechnya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on weixin

Oleh MANSYUR ALKATIRI

Majalah UMMAT Thn. II No. 5, 2 September 1996 / 18 Rabiul Akhir 1417 H

PEJUANG CHECHEN. Jatuhkan helikopter Rusia

Serangan besar pejuang Chechen memporak-porandakan pasukan Rusia

Presiden Rusia Boris Nikolayevich Yeltsin, harus membayar mahal janji-janji perdamaian palsunya. Di tengah upacara pelantikannya menjadi presiden Federasi Rusia yang kedua, wajahnya yang pucat pasi akibat sakit jantung ditampar keras oleh serangan pejuang Chechen yang menewaskan ratusan tentaranya.

Serangan Selasa tengah malam sampai Rabu pagi itu (7/8) sungguh hebat. Pejuang Chechen menyerang dari hampir semua jurusan. Pasukan Rusia, yang tak menyangka akan diserang demikian keras, kocar kacir. Sebagian lainnya terperangkap di tengah kota, di dalam gedung-gedung pemerintah dan segera menjadi sasaran empuk penembak jitu Chechen. Untuk menembus kepungan itu, pasukan Rusia menjadikan rakyat sipil Chechen sebagai tameng hidup. Ratusan pasien beserta dokter dan perawat di sebuah rumah sakit, turut disanderanya.

“Kami menguasai keadaan di pusat kota,” kata Khizir Khachukayev, seorang komandan pejuang Chechen. Koresponden kantor berita Rusia Interfax, dan seorang pejabat pemerintah boneka Rusia di Chechnya, Yuri Pluguin, membenarkan ucapan Khizir. Di bawah komando Salman Raduyev, menantu Dudayev yang sebelumnya dikabarkan tewas, pasukan Chechen lainnya menyerang kota Argun yang juga menjadi markas pasukan Rusia.

Bagi para pejuang Chechen, keberhasilan merebut sebagian besar Ibu Kota Grozny sekaligus untuk menangkal klaim Kremlin bahwa mereka hanyalah “geng teroris” dan “gerombolan bandit”. Kini mereka menyentakkan lamunan Yeltsin dan pasukan Rusia. Surat kabar Rusia Komsomolslaya Pravda memasang judul headline-nya dengan nada sinis: “Bandit melakukan serangan ke Grozny lebih pandai dari para jendral.”

Kehancuran pasukan Rusia dalam serangan Rabu itu menunjukkan betapa pemimpin militer Rusia tak cukup mempelajari musuhnya. Pejuang Chechen berhasil memperlihatkan organisasi penyerangan dan daya serang yang baik, serta kelincahan menghindari balasan. “Inisiatif selalu berada di tangan gerilyawan, yang dapat memilih kapan harus menyerang dan kapan harus menghilang,” ujar seorang analis militer Barat.

Buku ini berkisah mengenai pribadi dan perjuangan ERTUGRUL BIN SULAIMAN SHAH, bey (pemimpin) suku Turki Kayi. Sepanjang hidupnya, ia terlibat dalam jihad panjang melawan kaum Salib Bizantium dan Mongol dalam menegakkan agama Islam di bumi Anatolia (Turki sekarang).

Sampai hari Selasa (13/8), Rusia mengaku kehilangan 221 tentara dan 766 lainnya terluka. Sementara juru bicara pejuang Chechen, Movladi Udugov, menyatakan pada kantor berita Reuters bahwa pihaknya berhasil menewaskan 1.230 tentara Rusia. Menurutnya pula, pihaknya kehilangan 37 milisi. Tapi menurut sumber Rusia, jumlah korban di pihak Chechen sampai ratusan.

PRESIDEN CHECHNYA ZELIMKHAN YANDARBIYEV (kanan) dan KASTAF AB ASLAN MASKHADOV (kiri). Bertempur untuk merdeka!

Pasukan Rusia juga kehilangan banyak sekali kendaraan tempur, termasuk tank. Beberapa helikopter dan pesawat tempur jet Moskow juga jatuh ditembak gerilyawan. Pihak pejuang mengaku memiliki rudal darat ke udara Stinger buatan AS.

Moskow menuduh beberapa negara Islam telah membantu persenjataan pejuang Chechnya yang kelihatan membaik itu. Tapi menurut Alastair Macdonald dari Reuters, kebanyakan senjata berat Chechen adalah buatan Rusia yang mereka rebut –atau dibeli– dari pasukan Rusia. Anak buah Mereka juga punya senjata anti-pesawat, Zenit, dan kendaraan tempur. Dan kini mereka diyakini memperoleh banyak senjata baru yang ditinggalkan pasukan Rusia di Grozny.

Moskow sebelumnya mengklaim telah menghancurkan kekuatan gerilyawan Chechen dalam serangan udara dan artileri bulan lalu. Pemimpin Chechen yang diwawancara Reuters bulan lalu di pegunungan selatan memang mengakui tengah terdesak. Tapi mereka tetap yakin dapat mempertahankan pola perang hit and run selama mungkin. Dan serangan minggu lalu membuktikannya.

Setelah laporan terbunuhnya Dudayev April lalu, pemimpin baru Chechen Zelimkhan Yandarbiyev, dan kepala staf angkatan bersenjatanya Aslan Maskhadov, berhasil memelihara disiplin prajurit. Ini sekaligus menepis propaganda Moskow bahwa sepeninggal Dudayev, pejuang Chechen terpecah-belah.

Rusia memiliki 30.000 tentara di wilayah bergolak itu. Sementara menurut perkiraan Moskow, Chechen tinggal memiliki 3.000 sampai 4.000 pejuang saja. Tapi pejuang Chechen di dukung penuh rakyat Chechen yang terus membantu dan melindungi mereka.

Alexander Lebed, kepala kemananan Rusia yang baru, yang dulu anti perang Chechnya tapi kemudian berbalik mendukung, kini harus mengakui kenyataan tak mudah memerangi aspirasi kemerdekaan. Lebed, yang oleh sebuah televisi Moskow baru-baru ini digambarkan sebagai “terminator” pernah merasakan getirnya pengalaman di medan perang Afghanistan. Dan Chechnya bukan tak mungkin akan mengulangi mimpi buruk Lebed. Jika tak ingin tragedi memalukan di Afghan terulang, Yeltsin dan Lebed tak perlu lagi berdusta kepada rakyat Rusia dan Chechen serta masyarakat internasional dengan mengobral kata damai sekedar untuk menutupi niat ganas: membasmi bangsa Muslim Chechen. (Mansyur Alkatiri)

BACA JUGA:
Masjid di Parlemen Israel?
Upaya India Habisi Pemimpin Kashmir
Boris Yeltsin Membantai Muslim Chechnya

Leave a Reply

Kategori Tulisan

Arsip Tulisan

Subscribe Untuk Mendapat Info Terbaru

Twitter Feed