Perang Saudara di Somalia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on weixin

Kepentingan Di Balik Krisis Baru di Somalia

Oleh: Mansyur Alkatiri *

Dimuat di Harian SUARA MERDEKA, 23 Juni 1993

Setelah selama berbulan-bulan berada dalam keadaan lumayan tenang, Somalia kembali bergolak. Negara di Tanduk  Afrika ini sekarang mendapat gempuran bergelombang dari pasukan Amerika Serikat yang bertindak atas nama PBB. Tujuan serangan ini adalah menghancurkan kekuatan faksi terbesar di Somalia, sekaligus meringkus pemimpinnya yaitu Jenderal Mohammad Farah Aidid. Milisi Aidid  ini dituduh bertanggung-jawab atas kematian 23 anggota pasukan perdamaian PBB asal Pakistan tanggal 5 Juni lalu.

Peristiwa pembunuhan tersebut memang amat memprihatinkan dan sungguh tak bisa dibenarkan. Akan tetapi tindakan balas dendam membabi buta yang dilakukan dengan serangan udara oleh pasukan Amerika Serikat dan penembakan terhadap para demonstran tak bersenjata oleh pasukan PBB, patut dipertanyakan pula. Belasan warga sipil tewas oleh serangan udara AS dan 20 lainnya menemui ajal ketika diberondong tentara PBB asal Pakistan. Padahal reso­lusi Dewan Keamanan hanya memberi wewenang pasukan PBB untuk menangkap dan menghukum mereka yang bersalah.

Memang resolusi tersebut juga mengijinkan tindakan keras bila diperlukan, sean­dainya pihak yang bersalah tak mau menyerah. Tapi tentunya terdapat konsekwensi logis yaitu harus diadakan dulu penyelidikan yang cermat untuk menentukan dalang peristiwa 5 Juni, sehingga bisa diketahui secara tepat siapa yang bersalah dan mesti dihukum.

PASUKAN AS DI SOMALIA. Misi Menghancurkan Milisi Mohammad Farrah Aidid

Namun yang terjadi tidaklah demikian. Amerika langsung melancarkan tuduhan pada faksi Aidid dan menghajarnya. Bahkan AS sulit menutupi lagi ambisinya yang sudah lama tersimpan yaitu melenyapkan Aidid. Aidid sendiri berkali-kali membantah  pasukannya terlibat dalam pembunuhan tentara Pakistan dan meminta diadakannya penyelidikan independen mengenai kasus ini.

Misteri Pembunuhan Pasukan PBB

Mengikuti rentetan kejadian mutakhir di Mogadishu itu, muncul banyak misteri. Pertama, apa sebenarnya sebab-musabab pembantaian atas ke-23 pasukan Pakistan itu? Kedua, kenapa PBB tidak terlebih dulu melakukan investigasi secara teliti untuk menemukan secara tepat para pelaku 5 Juni? Dan ketiga, kenapa Amerika begitu bernafsu menghabisi kekuatan faksi Aidid dengan serangan udara dahsyat setelah menuduhnya sebagai orang yang bertanggung-jawab atas pembantaian tersebut? Dan kenapa pula PBB, terutama sekjen Boutros Ghali, membela mati-matian aksi tersebut?

Pembunuhan 5 Juni masih misterius. Di samping tak diketahui secara persis siapa dalangnya, tak pernah pula terungkap sebab-musababnya. Laporan yang keluar hanya menyebutkan bahwa 23 tentara Pakistan tewas akibat disergap dan ditembaki oleh kelompok bersenjata Somalia yang diduga dari faksi Aidid, ketika mereka sedang membagi-bagi makanan untuk para warga yang kelaparan.

Sungguh sulit dimengerti bila kejadian tersebut berlangsung begitu saja tanpa sebab-sebab khusus. Walaupun merupakan faksi terbesar di Somalia, dari segi persenjataan Aidid jelas kalah kelas dengan pasukan PBB, terutama AS. Mungkinkah Aidid begitu berani membantai personel PBB dengan tanpa memperhitungkan balasannya? Dan kenapa pasukan Pakistan yang menjadi korban? Padahal tentara dari  negara Islam ini merupakan pasukan asing pelopor yang datang pertama kali ke Somalia atas nama PBB dan selama  ini dikenal baik, tak mempunyai permusuhan dengan faksi manapun. Berbeda dengan pasukan dari Barat terutama Amerika dan Italia -bekas penjajah-  yang banyak menimbulkan kerugian pada faksi Aedeed, selama operasi Pemulihan Harapan.

Inilah misteri yang semestinya dijernihkan lebih dulu. Lebih-lebih Aidid mempunyai musuh utama yang bermarkas di bagian lain kota Mogadishu yaitu Ali Mahdi Mohammad, yang mengangkat dirinya sendiri menjadi presiden Somalia. Tidak tertutup kemung­kinan pihak Ali Mahdi atau lainnya yang tidak  menyukai Aidid, telah memancing di air keruh untuk mengkambing-hitamkan Aidid. Apalagi Ali Mahdi secara diam-diam ataupun terang-terangan menda­pat dukungan dari negara-negara Barat dan Arab pro Barat, sehingga kerjasama antar mereka ini juga tak bisa dikesampingkan begitu saja. Sementara itu, Aidid dikenal dekat dengan gerakan militan Islam, Al-Ittihad.

Kemungkinan lain, aksi pembunuhan tersebut dilakukan oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi ke faksi Aidid dengan tanpa sepengetahuan atau perintah Farah Aidid. Dalam medan konflik Somalia memang banyak gerombolan bersenjata yang sering tak terkontrol dan tidak berdisiplin. Kalau ini yang terjadi, tidak adil jika  Aidid yang harus dihukum. Apalagi dakwaan semata diluncurkan karena tempat kejadian tersebut ada di dalam  wilayah kekuasaan faksi ini.

JENDERAL MOHAMMED FARAH AIDID. Menjadi target utama

Terlepas dari apakah Farah Aidid benar atau salah, nampaknya peristiwa 5 Juni telah dijadikan dalih oleh AS dan PBB yang berada di bawah pengaruhnya, untuk menghabisi kekuatan faksi terbesar ini. Seluruh persenjataan dan amunisi milisi Aidid tengah dihancurkan, stasiun radio dileburkan sehingga sulit bagi kelompok ini untuk menjalin komunikasi dengan rakyat Somalia. Bahkan Aidid sendiri diburu untuk ditangkap atau dibunuh.

Aidid dan Perang Saudara

Mohammad Farah Aidid adalah bekas tentara dalam Angkatan Bersenjata Somalia. Setelah pensiun ia diserahi pos sebagai duta besar di India oleh rezim Mohammad Siyad Barre. Ia adalah sosok nasionalis yang sederhana. Di dalam rumahnya yang hancur setelah dibom pesawat Amerika, tak ditemukan barang mewah. Hanya ada sedikit makanan dan beberapa kitab suci Al-Qur’an.

Buku ini berkisah mengenai pribadi dan perjuangan ERTUGRUL BIN SULAIMAN SHAH, bey (pemimpin) suku Turki Kayi. Sepanjang hidupnya, ia terlibat dalam jihad panjang melawan kaum Salib Bizantium dan Mongol dalam menegakkan agama Islam di bumi Anatolia (Turki sekarang).

Tidak puas dengan merajalelanya sikap otoriter yang ditunjukkan pemerintah Barre, Farah Aidid kemudian ganti haluan dan mulai memberontak pada pemerintah. Ia bersekutu dengan Ali Mahdi Muhammad, seorang  konglomerat besar Somalia. Diam-diam Aidid meninggalkan posnya di New Delhi.

Pada konperensi khusus di Roma tahun 1989 didirikanlah United Somali Congress. Ali Mahdi yang kaya sebagai raja hotel di Mogadishu membiayai organisasi yang berpusat di ibukota Italia itu. Aidid, yang tentara, diminta memimpin sayap militer organisasi itu. Ia diam-diam meninggalkan pos sebagai duta besar di India.

Barre akhirnya tumbang dan hengkang ke luar negeri pada Januari 1991. Ali Mahdi Mohammad serta  merta mengangkat diri sebagai presiden ad interim. Hal ini mengakibatkan Aidid dan pengikutnya marah, karena mereka merasa paling berjasa mendongkel Barre. Perundingan antara keduanya tak membawa hasil dan Somalia berubah jadi anarkis dengan banyak wilayah kefamilian.

Aidid dan Ali Mahdi berasal dari suku yang sama yaitu Hawiyeh, namun berbeda sub-klan. Ali Mahdi  dan anak sukunya, Abgal, meyakini Mogadishu sebagai wilayahnya karena jumlah mereka lebih banyak di sana. Sementara Aidid menyatakan bahwa dia-lah yang telah mengusir Barre dari ibukota. Aidid punya alasan kuat. Sebagai komandan militer dari USC yang mewakili seluruh klan Hawiyeh, ia memang yang membuat dikatator berusia 80 tahun itu lari ke negara tetangga. Aidid banyak mendapat dukungan dari klan-klan Rahanweign dan sebagian anggota klan Ogaden yang banyak mendiami wilayah selatan.

Ali Mahdi menolak klaim tersebut. Pada waktu Aidid mengejar Barre dengan menembus penjagaan kuat pasukan yang setia pada sang diktator, di bulan Januari itu, beberapa orang mantan pemimpin sipil dan pejabat senior sipil yang disokong Italia, bertemu di Mogadishu dan memilih Ali Mahdi sebagai presiden ad interim Somalia. Sedang Omar Arteh Ghalib yang berasal dari Tanah Somali, wilayah yang menyatakan memisahkan diri, dan menjabat perdana menteri rezim Barre waktu itu, diangkat kembali menjadi PM. Sementara Aidid tak diikut sertakan.

Pada bulan Mei dan Juli 1991, sebuah konprensi di buka lagi di Jibouti yang menegaskan kembali Ali Mahdi sebagai presiden dan Omar Arteh sebagai PM. Banyak politisi sipil dan orang-orang Somali di pengasingan telah diundang ke Jibouti, tetapi kelompok-kelompok gerilya yang berjuang nyata melawan Barre, tidak hadir.

Konperensi Jibouti jadi kurang memiliki legitimasi politik, seperti halnya para politisi itu yang tidak turut berjuang dalam perang di negerinya. Namun, hasil konperensi didukung penuh oleh Itali (bekas penjajah), Mesir, Jibouti dan Arab Saudi.

MILISI BERSENJATA SOMALIA. Terus saling membunuh

Omar Arteh ternyata tak mampu menguasai keadaan karena memang tak punya otoritas kuat di dalam negeri. Ia hanya mengan­dalkan pada dukungan negara-negara asing. Ia akhirnya lari keluar negeri. Ali Mahdi sendiri terkurung di distrik Karan, Mogadishu utara, sampai saat ini. Posisinya yang terjepit telah tertolong oleh kehadiran pasukan Amerika Serikat yang melakukan intervensi ke Somalia dalam operasi Pemulihan Harapan.

Rentetan peristiwa politik di atas yang merugikan posisi Aedeed, kiranya dapat sedikit membantu membuka tabir kemelut, terutama yang menyangkut keterlibatan dunia internasional. Memang pasukan Barat telah mampu memperlancar arus bantuan kemanusiaan kepada warga yang kelaparan. Tapi terlalu sederhana bila dikatakan motif kedatangan pasukan Barat itu semata untuk bantuan kema­nusiaan. Kasus Panama, Granada, Irak-Kuwait dan Bosnia, bisa menjadi contoh betapa negara-negara Barat dan PBB yang didominir­nya, hanya mau bertindak bila mempunyai kepentingan politik  atau ekonomi di kawasan itu. 

Dunia, dalam kasus ini Barat dan sekutunya di sekitar Somalia, sudah sejak awal berusaha menahan naiknya Aidid yang tak bisa mereka atur ke puncak kekuasaan republik ini. Apalagi letak Somalia amat strategis, terutama karena penguasaan atas selat Mandab di Laut Merah yang merupakan jalur utama masuknya minyak  dari Teluk Persia ke negara-negara Eropa (baca: Barat). Geosrategis Somalia di Tanduk Afrika dan tepi Laut Merah ini pula yang menjadikan Amerika menyokong rezim kejam Siyad Barre dahulu.

Barat juga memendam kekhawatiran akut akan gejala yang mereka namakan Fundamentalisme Islam di Tanduk Afrika mengingat keberhasilan gerakan Islam di Sudan, yang satu kawasan, mendirikan Republik Islam. Apalagi rakyat Somalia 100% beragama Islam dan terdapat simpati besar terhadap Dr. Hasan Turabi, ulama dan cendekiawan arsitek islamisasi Sudan. Dengan melihat kondisi ini, Somalia menyimpan potensi besar menjadi Sudan kedua. Seorang penulis Barat pernah mengatakan bahwa satu-satunya kemungkinan yang dapat menyelesaikan kemelut perang saudara di Somalia adalah fundamentalisme Islam. Penulis ini secara tak langsung menyiratkan betapa bahayanya bagi Barat bila Somalia dibiarkan menyele­saikan urusannya sendiri.

Pada pertengahan 1990, Amerika meresmikan bangunan kompleks kedutaan besarnya di Mogadishu yang memakan biaya sampai 50 juta dollar AS. Kompleks kedutaan yang dilengkapi dengan lapangan golf 9 lobang, kolam renang dan lapangan tenis serta kantor-kantornya menggunakan kaca tahan peluru, disebut-sebut sebagai  kompleks kedutaan paling moderen di benua Afrika. Kedutaan yang baru sempat dipergunakan setengah tahun dan akhirnya rusak berat diamuk perang ini tentunya dibangun untuk men-service kepentingan strategis di atas.

Menilik kompleksitas masalahnya, tak bisa diabaikan adanya anggapan bahwa kecamuk kemelut mutakhir yang merundung bumi Somalia sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Dunia Barat. Dan dalam hal ini nampaknya PBB kembali tidak bisa berperan secara jernih. Keadaan ini tidak kondusif bagi cita-cita tegaknya negara Somalia yang aman dan damai untuk waktu yang lama. Dengan cara yang ditempuh saat ini, mungkin saja akan lahir perdamaian. Tapi kelanggengannya tak bisa dijamin.*

* Penulis adalah alumnus FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

No comments
Leave a Reply

Kategori Tulisan

Arsip Tulisan

Subscribe Untuk Mendapat Info Terbaru

Twitter Feed