23 September 1821: Yunani Bantai 30.000 Muslim di Tripolitsa

Oleh MANSYUR ALKATIRI  (Peminat Sejarah dan Dunia Islam)

Hari ini, 23 September, di tahun 1821, sebuah tragedi besar kemanusiaan terjadi di kota Tripolitsa, Peloponnese, sekarang masuk Yunani. Milisi dan warga biasa Yunani yang disokong penuh oleh para uskup dan pendeta Gereja Ortodoks Yunani, membantai 30.000 warga Muslim biasa di Tripolitsa. Tripolitsa saat itu dikuasai Usmaniyyah (Ottoman) Turki dengan penduduk Muslim yang besar, yang mayoritasnya keturunan Turki. Banyak juga Muslim asli Yunani dan etnis Albania.

Seluruh Muslim dibantai, laki-laki, wanita dan anak-anak. Tak ada yang tersisa. Banyak Muslim yang disemebelih, dipotong-potong anggota tubuhnya, serta dipanggang dalam api. Anak-anak dikejar dan dibunuh seperti anjing liar. Harta benda mereka dijarah. Rumah-rumah mereka dibakar habis.

Pembantaian di Tripolitsa ini menjadi rangkaian akhir dari pembantaian-pembantaian terhadap Muslim oleh milisi dan warga Kristen Ortodoks Yunani yang menuntut kemerdekaan Yunani, di saat kekuasaan Ottoman Turki melemah. Sebelumnya, di kota Morea dan beberapa kota dan desa lainnya, milisi dan warga Yunani juga menghabisi kaum muslimin.

Sejarawan Inggris, Alison Phillips, menulis di tahun 1897 bahwa seluruh pembantaian itu sudah direncanakan. Sejarawan lainnya, William St. Clair, menyebut jumlah Muslim yang dibantai di Tripolitsa mencapai 20.000 lebih jiwa. Tapi sejarawan lainnya mencatat sekitar 30.000 jiwa. “Laki-laki, wanita dan anak-anak dibantai oleh tetangga-tetangga Yunani mereka dalam beberapa minggu,” tulis Clair dalam bukunya That Greece Might Still Be Free The Philhellenes in the War of Independence (1972). 

Wlliam Clair juga mencatat, “Para uskup dan pendeta mendesak umat mereka untuk memusnahkan apa yang mereka sebut ‘Muslim kafir’”.

Orang-orang keturunan Turki tiba-tiba lenyap dari banyak kota di Yunani, karena pembantaian total selama proses revolusi Yunani. Dunia diam seribu bahasa. Bahkan, para pembantai itu memperoleh senjata dari Rusia, Inggris dan Prancis. Ketiga negara itu sangat bersemangat mendukung lepasnya Yunani dari Turki Usmani, tanpa peduli puluhan ribu Muslim yang menjadi korban pembantaian. Tanpa ada rasa sesal sedikit pun. Sampai sekarang!*

BACA JUGA:
Pertempuran Mohacs, Sultan Suleiman Taklukkan Hungaria
Di Hungaria, Masjid Pasha Qasim Diubah Menjadi Gereja Katolik
Hagia Sophia dan Kemunafikan Eropa-Kristen

Hagia Sophia dan Kemunafikan Eropa-Kristen

Oleh: MANSYUR ALKATIRI

Setelah menjadi wilayah Muslim selama 370 tahun, kota Toledo (Spanyol sekarang) jatuh ke tangan Kerajaan Castille pada 25 Mei 1085 setelah pengepungan selama satu tahun. Penguasa Muslim lokal, Yahya II al-Qadir, menyerahkan Toledo secara damai pada Raja Alfonso VI dari Castille setelah keduanya mencapai kesepakatan bahwa penguasa Katolik itu akan menjaga keamanan kaum muslimin di sana dan membiarkan masjid-masjid menjadi tempat ibadah kaum muslimin.

Namun kesepakatan itu hanya berjalan dua tahun. Alfonso VI mengingkari janjinya. Dia membiarkan Masjid Agung Toledo, masjid terbesar di kota itu, dirampas oleh kaum Katolik atas perintah Uskup Agung Bernard of Sedirac. Masjid itu pun dijadikan katedral. Dan setahap demi setahap bangunan asli masjid itu diubah menjadi katedral bergaya arsitektur Gothic (Justin E.A. Kroesen, From Mosques to Cathedrals: Converting Sacred Space During the Spanish Reconquest, dalam Mediaevistik, vol. 21, Thn. 2008).

Ketika raja-raja Katolik di wilayah yang sekarang bernama Spanyol dan Portugal mengambil alih kembali wilayah itu dari tangan pemerintahan Muslim asal Afrika Utara dan Arab, mereka membantai, memaksa pindah agama, dan mengusir jutaan Muslim dari Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal sekarang). Mereka juga menghancurkan dan mengubah ribuan masjid menjadi gereja dan tempat lain.
BACA SELENGKAPNYA “Hagia Sophia dan Kemunafikan Eropa-Kristen”

Muslim Yunani

Rintihan Dari Western Thrace

Oleh: Mansyur Alkatiri

Sumber:  Majalah UMMAT, No. 35 Thn. III, 23 Maret 1998

Minoritas Muslim di Yunani hadapi penindasan HAM sistematis. Eropa diam seribu bahasa

MUFTI MEHMET EMIN AGA. Ditahan berkali-kali
MUFTI MEHMET eMIN AGA. Ditahan berkali-kali

Barat getol menyuarakan hak-hak kelompok minoritas Kristen di banyak negara. Bahkan di Kongres Amerika Serikat, kini tengah digodok undang-undang yang akan memberi sanksi pada negara yang mereka anggap melakukan diskriminasi terhadap umat Kristen. Daftar negarapun dibuat, dan kebanyakan adalah negara yang mayoritas penduduknya Muslim, termasuk Indonesia, Sudan dan Iran.

Bagaimana dengan derita minoritas Muslim di negara yang mayoritas penduduknya Kristen? Eropa dan AS tutup mata tutup kuping. Tragisnya, tak banyak pula negara Islam yang peduli. Nasib Muslim di Yunani misalnya, nyaris tak terdengar di telinga muslimin negara lain.

Muslim di Western Thrace (Yunani timur laut), sudah lama menderita akibat perlakuan buruk pemerintah dan masyarakat Kristen Ortodoks Yunani. “Orang Yunani menyerang warga dan masjid-masjid kami. Kami khawatir akan terjadi pembersihan etnis disana,” ujar Mehmet Emin Ega, Mufti kota Xanthi pada Muslim News (27/2) di London belum lama ini.

BACA SELENGKAPNYA “Muslim Yunani”

Liga Arab Ingin Bangun Masjid di Athena

MASJID DI PLAKA, ATHENA. Diubah menjadi museum keramik

Yunani pernah ratusan tahun dikuasai Kekhalifahan Turki Usmani. Namun kini di Athena, ibu kota negeri itu, tak ditemukan sebuah masjid pun. Seluruh masjid yang pernah ada di Athena sudah diubah fungsinya menjadi museum, gereja, tempat hiburan dan lain-lain begitu Yunani lepas dari Turki Usmani. Karena itu, kota ini menjadi satu-satunya ibu kota negara di Eropa yang tak memiliki rumah ibadah Muslim.

Pemerintah Yunani sendiri di masa lalu pernah mengizinkan pembangunan mesjid. Namun mereka takut pada reaksi Gereja Ortodoks Yunani yang memiliki pengaruh besar di negeri tersebut. 

Belum lama ini, Liga Arab, dalam sebuah jamuan makan siang bagi Menteri Luar Negeri Yunani, Karolos Papoulias, memohon pada Pemerintah Sosialis Yunani untuk mengizinkan pembangunan sebuah masjid di Athena.

“Kami bangga dengan gereja yang ada di negara kami, dan kami berharap Anda dapat membagi sebidang tanah bagi pembangunan sebuah mesjid di Athena, agar masyarakat Muslim dan Arab di sini dapat melaksanakan kewajiban agamanya,” kata duta besar Kuwait di Yunani, Ali al-Zaid., mewakili duta-duta besar Arab. Gereja Ortodoks Yunani memang banyak dijumpai di negara-negara Arab Muslim.

Tiga tahun lalu, sebuah mesjid tua di daerah Plaka, yang berdekatan dengan kuil Acropolis kuno yang masyhur itu, telah diubah menjadi museum kesenian. Sebuah masjid tua lain di daerah yang sama pun terkunci rapat.*  – MA (Sumber: Kayhan International)