Steven Seagal Tersandung Protes Muslim di Amerika

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on weixin

Oleh MANSYUR ALKATIRI

Majalah UMMAT Tahun I No. 20, 1 April 1996 / 12 Zulkaidah 1416 H

Sebuah film baru Hollywood mengundang protes Muslim. Organisasi Islam CAIR kembali unjuk gigi

Ingat geger film True Lies beberapa waktu lalu? Film yang menggambarkan Muslim secara negatif itu akhirnya dilarang beredar di beberapa negara Islam, termasuk Indonesia. Namun film sejenis telah siap pula diluncurkan Hollywood. Executive Decision, judul film tersebut, yang diproduksi perusahaan film Warner Bros, akan beredar secara nasional di Amerika Serikat, Maret ini. Bintang utamanya tak asing lagi bagi penggemar film laga di sini: Kurt Russel dan Steven Seagal. Salah seorang bintangnya, Steven Seagal, yang jagoan Aikido itu, terkenal berkat film-filmnya yang pernah beredar di sini. Di antaranya, Out for Justice, Hard to Kill, dan Under Siege I & II.

“Teroris” Chechen?

Sebagaimana True Lies, Executive Decision juga memancing kontroversi. Dan lagi-lagi, protes pertama datang dari Council on American-Islamic Relations (CAIR), lembaga advokasi Islam yang bermarkas di Washington, AS. Dalam press release-nya yang diterima UMMAT tertanggal 1 Maret 1996, CAIR menuduh film tersebut telah memberi gambaran stereotip dan negatif mengenai Islam dan kaum muslimin. Executive Decision bercerita tentang pembajakan sebuah pesawat Boeing 747. Pembajaknya adalah Nagi Hassan (diperankan oleh David Suchet), yang dalam iklan film ini disebutkan sebagai “orang kedua dalam sebuah organisasi teroris yang amat kejam dan menakutkan di dunia”. Para teroris, berkebangsaan Chechen, akan menyerang ibu kota AS, Washington, dengan gas urat syaraf yang mematikan.

Film tersebut banyak mengandung adegan menyudutkan Islam dan kaum muslimin. Di awal cerita saja sudah tampak penggambaran negatif dengan figur seorang teroris yang membawa kitab suci Al-Qur’an di satu tangan dan sebuah bom di tangan lainnya. Di bagian lain cerita, tampak seorang teroris tengah mengerjakan shalat. Juga sorotan khusus terhadap cincin yang dipakai sang teroris, yang bertuliskan “Allah”.

Ada pula adegan diskusi di antara para teroris tentang sebab-sebab tindakan kekerasan tersebut, lengkap dengan rujukan ayat-ayat Alquran! Tak lupa pula kalimat-kalimat takbir, yang memang paling sering digunakan untuk menggambarkan Muslim secara stereotip. “Film ini membalikkan kenyataan. Bangsa Chechen yang menjadi korban keganasan Rusia justru dianggap sebagai agresor,” demikian bunyi pernyataan CAIR.

Stereotip Hollywood

Kecenderungan Hollywood membuat film-film yang merugikan citra Muslim atau Arab bukan barang baru. Sebut saja beberapa film seperti The Sheik, Protocol, Bloody Sunday, Not Without My Daughter, Delta Force, dan True Lies. Muslim dan Arab banyak digambarkan sebagai “miliarder, penari perut, dan teroris”. Kalau dalam tahun 1970-80-an, seperti tergambar dalam film “Sheik”, orang Arab Muslim ditampilkan sebagai miliarder yang doyan hura-hura, kini lebih banyak ditampilkan sebagai seorang pemimpin teroris “fundamentalis” bermata buas.

STEVEN SEAGAL. Fil-filmnya gemar menggambarkan Muslim sebagai teroris

Anehnya, kecenderungan serupa sulit ditemukan dalam hubungannya dengan agama atau penganut agama lain. Ini membuat berang Nihad Awad, direktur eksekutif CAIR. “Orang Amerika tak pernah membuat film yang menunjukkan orang-orang Serbia memegang Bibel di satu tangan, sementara tangan lainnya menyembelih leher wanita dan anak-anak Bosnia. Kami juga tak pernah melihat karikatur para pemukim Yahudi yang memegang Taurat di satu tangan, sementara menembaki muslimin yang tengah beribadah di Tepi Barat. Mengapa hanya kelompok Muslim yang dijadikan korban generalisasi stereotip seperti itu?” geramnya.

CAIR menuntut Warner Bros untuk memotong adegan-adegan yang menghina, serta menyisipkan sangkalannya di awal film, guna menghapus hubungan antara Islam dan kekerasan. Dengan begitu, film itu tak akan melukiskan sifat atau keyakinan suatu kelompok agama atau etnik apa pun. Pada 1994, CAIR berhasil menentang gambaran stereotip anti-Arab dan anti-Muslim dalam film True Lies, hingga produser film tersebut membuat pernyataan di akhir film bahwa film tersebut tak bermaksud mendiskreditkan ras atau agama apa pun.

Usaha memberi citra negatif terhadap Islam dan Muslim di AS mencapai puncaknya ketika terjadi pengeboman gedung Federal Alfred Murrah di Oklamohoma City, 19 April 1995. Laporan CAIR tentang kejahatan anti-Muslim waktu itu merinci paling tidak 200 insiden stereotip, gangguan, serangan, perusakan hak milik, dan seorang korban tewas. Korban meninggal tersebut adalah seorang bayi, sebagai akibat serangan atas sebuah rumah keluarga Muslim di Oklahoma.

CAIR

Sudah jamak diketahui, media massa AS dikuasai kalangan Yahudi. Mereka umumnya buta tentang Islam dan kaum muslimin. Ditambah sikap sinis mereka terhadap Arab dan Muslim karena persoalan Palestina-Israel. Ini diperparah oleh minimnya akses yang dimiliki Muslim di media massa berpengaruh. Kenyataan inilah yang kemudian membangkitkan beberapa tokoh Muslim AS untuk mendirikan sebuah lembaga demi memperbaiki citra mereka yang sudah terlanjur negatif. Maka dibentuklah Council on American-Islamic Relations (CAIR) pada Juni 1994.

NIHAD AWAD, Direktur Eksekutif CAIR: “Film ini membalikkan kenyataan. Bangsa Chechen yang menjadi korban keganasan Rusia justru dianggap sebagai agresor.”

CAIR berpusat di Washington. Menurut para pendirinya, lembaga ini bertujuan untuk memajukan Islam di Amerika melalui media massa dan kehumasan. Saat ini, Nihad Awad menjabat sebagai direktur eksekutif. Dalam usianya yang masih muda, CAIR sudah memiliki cabang-cabang di kota-kota besar AS. “Kami akan memanfaatkan media massa guna memajukan Islam. Kami putuskan untuk menghancurkan es. Hasilnya, kini kami telah memiliki hubungan kerja dengan media nasional,” kata Awad pada Arab News.

CAIR banyak melakukan riset dan investigasi. Laporan-laporan yang dibuatnya mengenai suatu masalah selalu sarat dengan data otentik hasil temuan lapangan. Salah satu yang terkenal adalah buku A Rush to Judgment, yang berisi laporan khusus tentang tindakan stereotip anti-Muslim, pelecehan, dan aksi-aksi kriminal menyusul pengeboman di Oklahoma.

Karena media memainkan peran penting dalam meniupkan prasangka anti-Muslim, maka Awad lebih mendekatkan diri pada media massa, baik cetak maupun elektronik. Menurutnya, kegiatan media dan kehumasan yang konstruktif lebih manjur daripada melakukan protes.

Respons positif

“Seluruh usaha kami ditujukan untuk meyakinkan mereka melalui fakta dan gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dan membongkarnya di media massa. Perlahan tapi pasti, usaha kami mulai membuahkan hasil. Media mulai memberikan respons positif sesuai pandangan kami. Ini kecenderungan yang menggembiarakan,” papar Awad. CAIR banyak membuat artikel-artikel yang diterbitkan di koran-koran terkemuka, seperti di The Washington Post dan The New York Times.

Kiprah lembaga muda ini juga diarahkan pada perusahaan-perusahaan tertentu yang menampilkan Islam secara keliru melalui produknya. CAIR melancarkan aksi kampanye khusus pada mereka. Misalnya, perusahaan yang mengeluarkan kartu selamat dengan menampilkan Islam dan wanita Muslim secara keliru diharuskan meminta maaf. Permintaan maaf itu dilaporkan oleh CNN. Sebuah perusahaan lain yang mempublikasikan iklan paket komputer di Ka’bah hingga menyinggung perasaan masyarakat Muslim juga berhasil dipaksa untuk mengubah iklan itu.

CAIR menyediakan diri bagi pengaduan masyarakat Muslim dan berusaha keras membantu mengatasi masalah mereka. Lembaga ini juga membekali warga Muslim dengan panduan langkah-langkah pengaduan pada yang berwajib seandainya mereka mengalami tindak kriminal. Sementara CAIR terus memonitor dan membantunya.

CAIR juga menerbitkan “Media Relations Handbook for Muslim Activist”, yang dimaksudkan sebagai pedoman bagi warga Muslim dalam berhubungan dengan mendia massa lokal.

Jujur dan akurat

Mengorganisasi media dan kehumasan merupakan usaha jangka panjang. Bagaimana usaha Awad menjadi sumber yang efektif bagi para profesional media? “Selalu jujur dan akurat,” jawab Awad. “Sekali waktu Anda mungkin bisa memberi informasi yang kurang benar, tapi akibatnya mereka (wartawan) takkan datang lagi pada Anda,” tambahnya.

Selain membuat laporan-laporan penelitian, CAIR juga menerbitkan brosur-brosur informasi. Salah satunya adalah “Mosque Open House Project”, yang menyarankan agar mesjid-mesjid dan Islamic Center membuka diri, agar masyarakat lain mau mengenal Islam. Ini cara efektif untuk membuka jalur komunikasi antara masyarakat Muslim dan penganut agama lain. Brosur lain yang berjudul “Welcome To Our Mosque” berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mesjid dan keistimewaannya. Ada pula brosur “Welcome To Our Ramadan Fast Breaking” yang berisi berbagai informasi tentang ibadah puasa dan tema-tema Islam lain. CAIR juga menerbitkan buku pedoman haji.* (Mansyur Alkatiri)

BACA JUGA:
Abdullah Yusuf Ali, Nama Besar Wafat Mengenaskan
Pemilu Tanpa Partai di Sudan
Islam di Polandia

No comments
Leave a Reply

Kategori Tulisan

Arsip Tulisan

Subscribe Untuk Mendapat Info Terbaru

Twitter Feed